Turki Tangkap 7 Orang Diduga Bantu Ghosn Kabur ke Libanon

CNN Indonesia | Jumat, 03/01/2020 08:30 WIB
Turki Tangkap 7 Orang Diduga Bantu Ghosn Kabur ke Libanon Mantan petinggi Nissan, Carlos Ghosn. (AP Photo/Koji Sasahara)
Jakarta, CNN Indonesia -- Pemerintah Turki menangkap tujuh orang yang diduga membantu mantan petinggi perusahaan otomotif Nissan, Carlos Ghosn, melarikan diri dari Jepang menuju Libanon. Mereka yang dibekuk terdiri dari empat pilot, seorang manajer perusahaan kargo, dan dua pegawai bandara setempat.

Seperti dilansir Associated Press, Jumat (3/1), ketujuh orang itu ditangkap untuk menyelidiki bagaimana cara Ghosn kabur dari Jepang menuju Libanon. Sebab, dia seharusnya menjalani persidangan terkait skandal dugaan manipulasi pendapatan dan melanggar aturan perusahaan di Negeri Sakura tahun ini, meski sementara ini tidak ditahan dengan jaminan uang.


Laporan dari sejumlah kantor berita Jepang menyatakan Ghosn tidak tercatat dalam penerbangan dari negara itu. Akan tetapi, sebuah jet pribadi dilaporkan lepas landas menuju Turki.


Menurut surat kabar Turki, Hurriyet, pesawat yang diduga membawa Ghosn mendarat di Bandara Ataturk, Istanbil pada 29 Desember pukul 05.30 waktu setempat. Akan tetapi, Ghosn tidak tercantum dalam catatan perlintasan imigrasi dan diduga diselundupkan ke pesawat lain menuju Libanon.

Sampai saat ini belum diketahui bagaimana Ghosn bisa tidak terdeteksi oleh aparat penegak hukum Jepang. Padahal, kasusnya menjadi skandal yang besar di negara itu dan seharusnya mulai menjalani persidangan pada April mendatang.

Jaksa penuntut umum dan polisi Jepang memutuskan kembali menggeledah rumah Ghosn di Tokyo.


Diburu Interpol

Kepolisian Internasional (Interpol) dilaporkan menerbitkan Red Notice terhadap Ghosn yang berarti dia adalah orang yang tengah diburu karena tersangkut persoalan hukum. Surat tersebut sudah dikirim kepada pemerintah Libanon.

Menteri Hukum Libanon, Albert Serhan, menyatakan akan mematuhi permintaan Interpol dan segera menginterogasinya. Namun, dia menyatakan Ghosn memasuki negara itu dengan sah dan paspor yang masih berlaku.

[Gambas:Video CNN]

"Kami negara yang berdasar hukum dan mematuhinya. Saya menyatakan Libanon akan menerapkan hukum tersebut. Jika ada tindakan yang harus kami lakukan, maka kami akan melakukannya," kata Serhan.

"Ghosn tiba di Libanon sebagai warga biasa. Pemerintah Libanon tidak mempunyai perkara hukum terhadapnya. Dia memasuki Libanon menggunakan paspor sah," ujar Serhan.

Belum diketahui apakah Libanon akan menyerahkan Ghosn kepada Interpol. Sebab, mereka tidak mungkin mendeportasi Ghosn ke Jepang karena kedua negara tidak mempunyai perjanjian ekstradisi.

Ghosn yang mempunyai paspor Prancis dan Brasil memang berasal dari Libanon dan mempunyai tempat tinggal di Beirut. Dia dianggap pahlawan oleh penduduk setempat karena dianggap berhasil sebagai pengusaha dan mampu menangani Renault dan menyelamatkan Nissan dari ambang kebangkrutan.

Di sisi lain, dua advokat Libanon mengadukan Ghosn melanggar undang-undang negara itu karena pernah mengunjungi Israel.

"Kedua negara sedang berperang. Ghosn mengunjungi Israel pada 2008 dan bertemu dengan perdana menteri dan presiden. Saat itu dia juga meluncurkan mobil listrik di Israel," kata advokat yang tidak disebutkan namanya tersebut.


Ghosn sempat ditangkap di Jepang pada November 2018. Namun, sampai saat ini dia berkeras tidak bersalah atas seluruh sangkaan, dan menuduh perkara itu dibuat-buat untuk menghalangi rencana penggabungan Nissan Motor Co., dan Renault. (ayp/ayp)