Kesaksian Tentara AS Berlindung dari Serangan Rudal Iran

CNN Indonesia | Selasa, 14/01/2020 11:05 WIB
Kesaksian Tentara AS Berlindung dari Serangan Rudal Iran Ilustrasi tentara Amerika Serikat. (JACK GUEZ / AFP)
Jakarta, CNN Indonesia -- Seluruh tentara Amerika Serikat selamat dari serangan rudal Iran yang menghantam pangkalan militer di Irak karena bersembunyi di ruang bawah tanah.

Sersan Akeem Ferguson menceritakan situasi mencekam saat serangan itu diluncurkan pada Rabu pagi (8/1).

Gedung Putih sudah mendapat peringatan dari intelijen pada Selasa siang menjelang sore bahwa serangan balasan Iran atas kematian perwira tinggi militer Mayor Jenderal Qasem Soleimani hampir pasti.


Sejak saat itu, seluruh pasukan AS di Irak diperintahkan untuk bersembunyi di dalam bungker. Ruang bawah tanah itu dibangun pada masa pemerintahan Presiden Saddam Hussein yang digulingkan.

Dinding tebal itu dibangun puluhan tahun lalu untuk menangkis serangan dari Iran ketika mereka berperang antara tahun 1980 hingga 1988.

Dikutip dari CNN, Ferguson berada di dalam bungker ketika timnya menerima transmisi radio yang mengerikan: Enam rudal balistik Iran menuju ke arah mereka.

"Saya memegang pistol dan menundukkan kepala. Saya mencoba mengalihkan pikiran, jadi saya mulai bernyanyi sambil mengingat putri saya," kata Ferguson.

"Aku hanya menunggu. Aku berharap apa pun yang terjadi, itu cepat." "Aku sudah 100 persen siap mati," ujarnya.

Ferguson selamat tanpa luka sedikitpun. Begitu juga tentara lainnya dan kontraktor sipil di pangkalan al-Assad.

Komandan di pangkalan itu mengatakan ketika peringatan pertama datang dari sinyal intelijen rahasia di malam hari sebelum serangan, sebagian besar pasukan AS di al-Asad dikirim ke bungker, dan beberapa telah diterbangkan.
[Gambas:Video CNN]
Hanya personel penting, seperti penjaga menara dan pilot pesawat tak berawak, yang akan tetap tinggal.

Serangan itu dianggap yang terbesar yang menghujani basis pasukan AS dalam beberapa dekade. Para tentara bersyukur semuanya selamat dan mengatakan ini adalah mukjizat.

Pasukan AS ditempatkan di pangkalan itu untuk membantu memerangi ISIS dan melatih aparat keamanan Irak. Tidak ada pasukan Irak yang terluka dalam serangan itu.

Serangan itu merupakan balasan Iran terhadap gempuran pesawat tak berawak AS yang diperintahkan Presiden Donald Trump untuk membunuh Qasem Soleimani.

Sepuluh dari 11 rudal menghantam basis AS di pangkalan udara Irak. Satu serangan menghujani pangkalan di Irbil.

Perdana Menteri Irak Adil Abdul Mahdi mengaku telah diberitahu Iran bahwa akan ada serangan udara di negaranya. Seorang diplomat Arab yang berbicara dengan CNN mengatakan bahwa Irak menyampaikan informasi tentang serangan itu ke AS.

Namun militer AS mengatakan bahwa mereka telah lebih dulu menerima informasi tentang serangan rudal balistik itu.

Rudal pertama jatuh pada pukul 1.34 pagi yang diikuti oleh tiga tembakan lagi, masing-masing berjarak lebih dari 15 menit. Serangan itu berlangsung lebih dari dua jam.

Pasukan di pangkalan menggambarkannya sebagai masa yang penuh dengan ketegangan, ketakutan, dan perasaan tidak berdaya.

"Anda dapat bertahan melawan (pasukan paramiliter), tetapi Anda tidak dapat bertahan melawan ini," kata Kapten Patrick Livingstone, komandan pasukan keamanan Angkatan Udara AS di pangkalan itu. "Saat ini, pangkalan ini tidak dirancang untuk bertahan melawan rudal." (dea)