Demonstran Irak Khawatir Konflik AS-Iran Alihkan Perhatian

CNN Indonesia | Rabu, 15/01/2020 01:50 WIB
Demonstran Irak Khawatir Konflik AS-Iran Alihkan Perhatian Ilustrasi demo di Irak. (AP Photo/Khalid Mohammed)
Jakarta, CNN Indonesia -- Demonstran Irak khawatir konflik antara Amerika Serikat dan Iran akan membuat tuntutan mereka terlupakan.

Irak menjadi medan pertempuran setelah AS meluncurkan serangan pesawat tak berawak yang diperintahkan Presiden AS Donald Trump untuk membunuh jenderal top Iran, Qasem Soleimani. Komandan Irak Abu Mahdi al-Muhandis juga tewas dalam serangan 3 Januari itu.

"Kami takut tuntutan dilupakan dan (pejabat) fokus pada hal lain, bukan pada tujuan utama kami," kata Noor, seorang aktivis di Lapangan Tahrir Baghdad, Selasa (14/1) seperti dikutip dari Associated Press.

Aksi unjuk rasa yang berlangsung sejak 1 Oktober lalu itu dipicu oleh kemiskinan dan wabah korupsi di pemerintahan. Mereka menuntut reformasi politik besar-besaran.


"Kami berusaha bersikap tenang dan mengingatkan orang-orang di jalan untuk menegaskan bahwa kami tidak berpihak pada Amerika atau Iran. Kami bersama Irak," kata demonstran.

Sebelum serangan drone AS menewaskan Qassem Soleimani, protes yang sudah berlangsung selama 4 bulan itu dilanda perpecahan internal. Tindakan keras keamanan telah merenggut nyawa ratusan warga sipil.
[Gambas:Video CNN]
Unjuk rasa ini yang terbesar di Irak dalam beberapa dasawarsa. "Semua orang sibuk dengan AS dan Iran, tetapi kami masih menghadapi serangan di jalan," kata Zaid, seorang pengunjuk rasa di Baghdad.

"Sekarang kita menjadi tujuan yang mudah bagi milisi; mereka dapat membahayakan kita karena tidak ada yang fokus pada mereka."


Kekhawatiran yang berkembang di kalangan pengunjuk rasa bahwa milisi yang didukung Iran akan menyerang massa yang menolak berduka atas kematian Soleimani.

Diketahui warga Irak menari dan menyanyi setelah AS melakukan serangan udara ke bandara internasional Baghdad. Mereka kegirangan setelah seorang perwira Iran tewas dalam serangan tersebut.

Selama berbulan-bulan warga Irak melakukan protes karena menganggap pemerintah Irak terlalu terikat dengan Iran. Kematian Mayor Jenderal Qassem Soleimani membuat mereka senang bukan main. (dea)