WAWANCARA EKSKLUSIF

Prancis Blak-Blakan soal Rencana Jual Jet Tempur sampai Iran

CNN Indonesia | Jumat, 24/01/2020 10:59 WIB
Prancis Blak-Blakan soal Rencana Jual Jet Tempur sampai Iran Dubes Prancis, Olivier Chambard, membeberkan soal rencana jual jet tempur sampai nuklir Iran. (CNN Indonesia/Hamka Winovan)
Jakarta, CNN Indonesia -- Belakangan Prancis menjadi sorotan terutama setelah kabar soal rencana Indonesia membeli puluhan jet tempur, kapal selam, dan kapal perang dari negara di Eropa Barat itu berhembus di media massa setempat.

Kabar itu muncul tak lama setelah kunjungan Menteri Pertahanan RI Prabowo Subianto ke Paris dan bertemu Menhan Prancis Florence Parly.

Dalam kunjungan itu, kedua negara sepakat mempererat kerja sama pertahanan. Prabowo pun sempat mengunjungi beberapa perusahaan industri pertahanan dalam lawatannya itu dan mengungkapkan ketertarikannya terhadap teknologi alat utama sistem pertahanan (alutsista) Prancis yang dinilai bisa membantu meningkatkan kapasitas senjata yang dimiliki TNI.


Reporter CNNIndonesia.com, Riva Dessthania S., berkesempatan melakukan wawancara eksklusif dengan Duta Besar Prancis di Indonesia, Olivier Chambard, untuk membahas lebih dalam mengenai hal itu pada Rabu (22/1).

Selain soal rencana pembelian alutsista, Chambard juga turut membahas perkembangan hubungan bilateral Prancis-Indonesia dalam bidang ekonomi hingga industri hiburan. Ia juga turut menjelaskan posisi Prancis dalam merespons ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran yang memuncak belakangan ini,terutama setelah Presiden Donald Trump meluncurkan serangan drone yang menewaskan salah satu jenderal Iran, Qasem Soleimani, di Irak pada 3 Januari lalu.


Berikut ulasan lengkap wawancara eksklusif dengan Chambard:


Apakah Prancis menganggap Indonesia sebagai mitra dan pasar penting di Asia Tenggara?

Tentunya Indonesia adalah mitra dan pasar yang besar di Asia Tenggara. Di Asia, Indonesia juga menurut saya adalah negara yang besar, pasar yang besar, dan negara yang sangat penting bagi Prancis secara strategis di kawasan Indo-Pasifik.

Indonesia memiliki tempat khusus bagi kami dan Prancis juga hadir di kawasan Indo-Pasifik, Samudera Hindia, dan Samudera Pasifik. Jadi kemitraan dengan Indonesia sangat penting dalam tingkatan itu.

Dalam bidang ekonomi, lebih dari 200 perusahaan Prancis memiliki cabang di Indonesia. Kami memiliki hubungan dagang dan ekonomi yang sangat aktif dengan Indonesia.

Salah satu hal yang penting bagi kami adalah Prancis tidak hanya memiliki hubungan dagang dengan Indonesia, tapi juga bekerja sama dalam perihal transfer teknologi dan produksi lokal.

Banyak perusahaan Prancis yang memiliki cabang di sini tidak hanya menjual produk mereka saja, tapi juga membangun dan membuat produk di sini untuk kebutuhan pasar Indonesia dan bahkan untuk diekspor ke pasar di kawasan Asia Tenggara.


Jika Indonesia memang salah satu mitra dan pasar penting bagi Prancis, mengapa sebagian besar investasi dari negara Uni Eropa termasuk Prancis masuk ke negara tetangga seperti Singapura dan Vietnam, bukan Indonesia?

Terkait Singapura, Singapura memiliki pasar yang mapan. Peringkat kemudahan berbisnis Singapura juga tinggi. Tapi menurut saya beberapa perusahaan Eropa yang berinvestasi di Singapura juga tujuannya adalah untuk menjangkau pasar-pasar di negara tetangga dan juga Indonesia.

Jadi ketika Anda menanyakan kehadiran Prancis dalam kerja sama ekonomi dan investasi di Indonesia, Anda harus mengakui bahwa sebagian modal perusahaan Prancis di Singapura adalah untuk pasar Indonesia juga.

Terkait Vietnam, Prancis telah lama memiliki hubungan yang kuat dengan Vietnam dengan beberapa alasan. Tapi jika dilihat dari angka, Prancis memiliki lebih banyak perusahaan yang bercabang di Indonesia dari pada di Vietnam. Jadi, saya pikir pasar Indonesia adalah yang terbesar di kawasan.

Salah satu hal terpenting adalah fasilitas infrastruktur, itu adalah prioritas kami di sini. Tapi bukan berarti kami mengabaikan pasar-pasar lainnya. Indonesia adalah benar-benar prioritas kami.

[Gambas:Video CNN]

Dengan kondisi usaha yang Anda sebutkan tadi, apa yang harus dilakukan pemerintah Indonesia agar bisa menarik lebih banyak investor asing ke dalam negeri?

Saya pikir kebijakan pemerintah dan kebijakan presiden untuk menarik investor diterima dengan sangat baik di Prancis. Undang-Undang Omnibus tengah dirapatkan di Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) dan itu mungkin akan menjadi insentif yang sangat baik bagi pengusaha asing.

Tentunya, pasar Indonesia bukanlah pasar yang mudah karena kalian terkadang menghadapi keadaan domestik yang sedikit sulit. Tapi saya pikir langkah pemerintah saat ini menunjukkan tanda-tanda yang baik dan akan meningkatkan investasi asing dari penanam modal Prancis.


Apakah ada rencana atau strategi dari pemerintah Prancis untuk menarik lebih banyak investor dari Prancis ke Indonesia di tahun-tahun mendatang?

Kami terus bekerja sama dengan pihak berwenang Indonesia untuk membuat Indonesia lebih terkenal di kalangan investor Prancis. Dalam beberapa pekan ke depan, kami juga akan menjamu delegasi bisnis dari Prancis yang akan datang ke Indonesia.

Mitra saya, Duta Besar Indonesia di Paris, juga sangat aktif dalam mempromosikan Indonesia. Tapi, yang terpenting adalah persepsi perusahaan-perusahaan terhadap pasar di Indonesia. Dan dengan reformasi yang sedang berlangsung di Indonesia bisa menjadi solusi yang sangat berpengaruh untuk menarik lebih banyak investasi asing.


Bagaimana pemerintah Prancis melihat perkembangan industri automotifnya di Indonesia? Pasar automotif Indonesia sebagian besar didominasi oleh mobil Jepang, sementara penjualan mobil Eropa termasuk dari Prancis hanya mencapai 5 persen saja. Ada rencana untuk kembangan potensi penjualan mobil Prancis di sini?

Kami terus melakukan banyak kemajuan. Memang sulit untuk mengembangkan penjualan di dalam pasar yang memiliki kebutuhan yang cukup berbeda. Tapi industri automotif Prancis terus berupaya membuat produk-produknya beradaptasi dengan kebutuhan pasar Indonesia.


Berbicara soal pengembangan mobil listrik, Indonesia tengah gencar mengembangkan teknologi tersebut. Apakah Prancis berniat untuk terlibat dalam pengembangan mobil listrik di Indonesia?


Produk mobil listrik Twizy buatan perusahaan automotif Prancis, Renault, telah bermitra dengan pihak Indonesia, Maxindo. Kami berupaya menawarkan teknologi Prancis yang cukup baik dan inovatif dalam mengembangkan mobil listrik.

Prancis Blak-Blakan soal Rencana Jual Jet Tempur sampai IranRenault Twizzy. (CNN Indonesia/Safir Makki)

Soal industri perfilman. Salah satu film Indonesia berjudul "Marlina si Pembunuh Dalam Empat Babak" berhasil masuk di Cannes Film Festival 2017. Produksi film tersebut juga bekerja sama dengan pemerintah Prancis yang diwakili oleh Cinema Du Monde. Apakah pemerintah Prancis berencana memperluas kerja sama dengan industri film Indonesia?


Tentu saja. Bukan hanya dengan pemerintah, karena dalam bisnis perfilman itu kita akan bekerja sama dengan perusahaan film itu sendiri, para produser, dan juga director. Tidak hanya dengan pemerintah.

Perfilman Indonesia sedang tumbuh menjadi lebih menarik karena itu tidak heran film Indonesia bisa menembus Cannes Film Festival. Di kedutaan besar Prancis di Jakarta sendiri kami bekerja sama dengan banyak produser dan sineas Indonesia. Kami juga kerap menayangkan beberapa film Prancis di sini.


Soal kunjungan Menteri Pertahanan Prabowo Subianto ke Paris pada 11-13 Januari lalu. Fokus apa yang dibawa Prabowo saat bertemu Menhan Prancis Florence Parly?

Jenderal Prabowo datang ke Prancis beberapa waktu lalu dan menggelar pertemuan konstruktif dengan menhan kami, ibu Parly. Mereka mendiskusikan banyak hal, termasuk soal perjanjian kerja sama pertahanan antara Indonesia-Prancis yang rencananya akan diteken tahun ini.

Perjanjian kerja sama pertahanan itu adalah kerangka bagi kedua negara agar terus saling berkoordinasi dengan erat dalam menyamakan visi pertahanan dan menjadi kerangka untuk mendiskusikan masalah strategis yang menjadi perhatian kedua negara, termasuk pembelian alutsista dan peluang latihan bersama.

Kerja sama pertahanan Indonesia-Prancis sudah cukup kuat selama ini dan kedua negara sepakat ingin mempererat hal ini ke segala arah, tidak hanya soal pembelian alat utama sistem pertahanan (alutsista), tapi juga dalam hal transfer teknologinya dan pembuatan produk senjata yang sebagian dilakukan di dalam negeri Indonesia.

Saya pikir hal itu adalah yang diinginkan dan sekaligus dibutuhkan Indonesia dalam upayanya untuk mengembangkan kapasitas militer negara. Kami siap memenuhi kebutuhan Indonesia dalam mengembangkan kapasitas militernya.

Prancis dan Indonesia adalah mitra strategis jadi pertemuan antara bapak Prabowo dan ibu Parly adalah salah satu cara bagi kedua menteri untuk semakin menyamakan visi dan bekerja sama lebih erat lagi.

[Gambas:Video CNN]


Tak lama setelah lawatan Prabowo ke Paris, media lokal Prancis melaporkan bahwa Indonesia berencana membeli 48 jet tempur rafale, empat kapal selam Scorpene, dan empat kapal perang korvet GoWind dari Prancis. Lawatan Prabowo ke Paris disebut salah satunya ingin memfinalisasi rencana pembelian alutsista ini. Apakah benar
?


Media berbicara tentang banyak hal. Sejauh ini belum ada yang final, kedua negara masih dalam tahap awal perundingan.

Menurut saya hal yang lumrah ketika bapak Prabowo bertemu dengan mitra asing seperti Prancis dan negara lainnya ketika Indonesia tertarik untuk mengembangkan kapasitas militernya agar bisa melihat kerja sama dan penawaran seperti apa yang bisa didapat dari mitra-mitra Indonesia yang dapat mendukung pengembangan kapasitas militer dalam negeri.

Banyak hal yang dapat kami tawarkan dalam konteks ini, Prancis merupakan salah satu mitra lama Indonesia.

Banyak yang bisa kami tawarkan dan yang utama adalah mengenai transfer teknologi serta pembuatan senjata yang sebagian dilakukan di dalam negeri (Indonesia). Ini adalah pendekatan yang saya pikir diinginkan juga oleh pemerintah Indonesia dalam memperkuat kapasitas militernya.


Sebagai anggota tetap Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), bagaimana Prancis melihat peran Indonesia di dewan tersebut setelah terpilih menjadi anggota tidak tetap periode 2019-2020?

Indonesia merupakan mitra penting bagi Prancis. Sebelum Indonesia berada di DK PBB, kami memiliki kerja sama yang sangat dekat dengan Indonesia. Dan itu juga berlaku terutama ketika di DK PBB, di mana Prancis dan Indonesia kerap berdiskusi bersama terkait tema dan hal-hal penting apakah yang harus dibahas di DK PBB di New York.

Ketegangan yang tengah terjadi antara Amerika Serikat dan Iran tak hanya mengancam stabilitas Timur Tengah, tapi juga global secara ekonomi maupun politik. Iran bahkan mengancam akan melakukan pengayaan uranium tanpa batas yang ditentukan Perjanjian Nuklir 2015 (JCPOA). Teheran juga mengancam akan keluar dari pakta non-proliferasi nuklir (NPT) jika program atomnya dibahas di DK PBB. Bagaimana posisi Prancis terkait masa depan JCPOA dan ketegangan antara AS-Iran ini?

Prancis telah lama terlibat dalam Perjanjian Nuklir 2015 dengan Iran. Kami terus bekerja keras bersama mitra kami yang terlibat dalam perjanjian itu untuk membujuk Iran agar tetap berkomitmen terhadap JCPOA. Karena hal terpenting adalah menjaga Iran agar tak memiliki kekuatan nuklir. Kami tengah berdialog dengan AS dan juga Iran.

Meski sangat terbatas, dialog masih terus berjalan. Kebijakan Prancis adalah untuk tetap melakukan dialog yang konstruktif dengan seluruh pihak terkait meski situasinya tidak sepenuhnya mendukung untuk itu.


Baru-baru ini Inggris mempromosikan bahwa mekanisme gagasan Presiden AS Donald Trump seharusnya bisa mengganti Perjanjian Nuklir 2015 yang dianggap sudah mati, terutama setelah Washington keluar pada 2018. Bagaimana Prancis menanggapi ide ini?

Prancis dan seluruh pihak anggota Perjanjian Nuklir 2015 meyakini bahwa kesepakatan dengan Iran terkait non-proliferasi nuklir adalah sangat penting. Dan menurut kami akan sangat berbahaya jika kita mencoba untuk menggantinya dengan perjanjian baru.

Membutuhkan upaya dan waktu yang sangat lama untuk bisa mencapai kesepakatan dalam Perjanjian Nuklir 2015. Jadi menurut kami adalah hal yang sangat penting untuk berupaya semaksimal mungkin agar perjanjian ini tetap berjalan. (rds/ayp)