Prancis dan Nepal Identifikasi Pasien Positif Virus Corona

AFP, CNN Indonesia | Sabtu, 25/01/2020 03:43 WIB
Prancis dan Nepal Identifikasi Pasien Positif Virus Corona Ilustrasi pencegahan virus corona di bandara Indonesia. (ANTARA FOTO/Fikri Yusuf)
Jakarta, CNN Indonesia -- Prancis mendeklarasi mendapati kasus virus corona Wuhan pada Jumat (24/1). Virus corona baru ini telah ke tiga benua, dimulai dari China di Asia kemudian sudah dilaporkan di Amerika Serikat (AS), dan kini di Eropa.

AFP memberitakan Menteri Kesehatan Prancis Agnes Buyzn mengatakan ada dua pasien yang terjangkit virus corona, satu pasien berada di Paris dan lainnya di Bordeaux. Dia juga mengonfirmasi kedua pasien telah berkunjung ke China.

"Kami punya dua kasus. Kami kemungkinan mendapati kasus lainnya," kata menteri.



Menurut media Prancis, pasien di Bordeaux kemungkinan seorang pria 48 tahun warga Prancis asal China. Dia dibawa ke rumah sakit setelah disadari memiliki gejala flu.

Pasien lainnya diduga wanita yang mengunjungi Prancis dari Wuhan. Dia dilaporkan netizen yang kemudian direspons otoritas setelah mengunggah konten di media sosial tentang 'mengonsumsi obat penurun demam dan berhasil melewati pengecekan di bandara".

Negara lain di Eropa, Inggris, telah mencurigai 14 kasus namun belakangan dinyatakan negatif.

Sebelum Prancis, AS sudah menyatakan pasien virus corona bertambah menjadi dua orang. Pada 21 Januari 2020 AS menyatakan satu korban, lantas pada 24 Januari 2020 seseorang dinyatakan positif terjangkit virus yang dinamakan 2019-nCov itu.

CNN menjelaskan virus corona sudah menginfeksi 900 orang di China, sebagian besar berada di Hubei, provinsi letak Wuhan yang merupakan sumber utama penyebaran. Pemerintah China telah menutup akses transportasi masuk dan keluar Wuhan dan melarang kunjungan ke sembilan kota di Hubei.

Sejauh ini dilaporkan virus corona sudah menewaskan 26 orang di China.


Nepal

Sebelum Prancis, Nepal juga sudah menyatakan seorang pelajar yang kembali dari Wuhan terinfeksi virus corona. Ini merupakan kasus pertama di Asia Selatan.

Pelajar itu datang di Nepal pada 9 Januari kemudian masuk ke rumah sakit di Kathmandu empat hari kemudian setelah mengalami demam dan sulit bernapas.

"Hasil dari sampel, dikirim ke Hong Kong, kemudian kembali positif," kata juru bicara rumah sakit yang menangani pasien. (fea/fea)