Wawancara Eksklusif

Menhan Malaysia Curhat Penyanderaan WNI di Sabah pada Prabowo

Tim, CNN Indonesia | Sabtu, 25/01/2020 10:31 WIB
Menhan Malaysia mengakui bahwa mereka kesulitan mengamankan perairan Sabah karena kekurangan kapal serta peralatan yang lebih canggih. Menteri Pertahanan Malaysia Mohamad Sabu. (ROSLAN RAHMAN / AFP)
Jakarta, CNN Indonesia -- Menteri Pertahanan Malaysia Mohamad Sabu mengatakan penyanderaan nelayan Indonesia yang terjadi berulang kali oleh kelompok Abu Sayyaf di perairan Sabah yang berbatasan dengan Filipina menjadi salah satu topik yang dibahas dengan Menhan RI Prabowo Subianto, Jumat (24/1).

Sabu mengaku bahwa Malaysia menghadapi tantangan mengamankan perairan yang rawan pembajakan. Ia juga mengatakan akan mempersiapkan kapal serta peralatan lebih canggih untuk mendeteksi kapal-kapal pembajak serta meningkatkan pembagian informasi dengan negara tetangga di masa datang.

"Kami (Malaysia) memang perlu meningkatkan keamanan di perairan (Sabah) sebelah Mindanao itu sendiri. Pulau-pulau begitu banyak dan kecil-kecil ini, sulit untuk mengenali kapal nelayan dan kapal kumpulan pembajak yang masuk," kata menteri yang kerap disapa Mat Sabu itu dalam wawancara eksklusif bersama CNNIndonesia.com di Hotel Mandarin Oriental, Jakarta, Jumat (24/1).


"Kadang-kadang kami tak bisa mengenali mereka (kapal-kapal kelompok penyandera). Ini yang perlu ditingkatkan Malaysia sekarang. Bersama Pak Prabowo tadi, beliau mengatakan bahwa mereka paham dan mereka akan terus perkuat kerja sama," ucapnya menambahkan.

Sebelumnya lima nelayan Indonesia yang bekerja di kapal ikan Malaysia diculik oleh kelompok Abu Sayyaf di perairan Tambisan, Lahad Datu, Sabah, 16 Januari lalu.

Penyanderaan itu terjadi berselang empat bulan setelah penyanderaan terakhir pada September lalu. Kelima nelayan itu juga diculik tiga hari setelah angkatan bersenjata Filipina membebaskan WNI terakhir yang ditawan Abu Sayyaf.

Indonesia menyebut penyanderaan ini terjadi lantaran koordinasi yang kurang efektif dengan pemerintah Malaysia. Sebab, penyanderaan berulang ini terjadi setelah Indonesia, Malaysia, dan Filipina menyepakati perjanjian trilateral yang berfokus pada kerja sama pengamanan di perairan Sabah, Sulu, dan utara Sulawesi.

Malaysia enggan disalahkan Indonesia terkait hal ini. Angkatan bersenjata Malaysia menyatakan selama ini telah berkoordinasi dengan Indonesia dan Filipina dalam menggelar patroli di perairan Sulu yang sudah berjalan sejak empat tahun lalu.

Mat Sabu juga menyatakan banyak nelayan Malaysia yang dibajak atau diculik di perairan Indonesia.

"Biasa lah kadang-kadang nelayan ini. Nelayan-nelayan kami pun banyak juga yang disita di Indonesia. Tapi kami tetap mencari jalan terbaik untuk berunding bagaimana menghadapi masalah ini. Ini yang tadi kami perbincangkan dengan Pak Prabowo," kata Mat Sabu.

Selain meningkatkan pengamanan di perairan Sabah, Mat Sabu juga menegaskan bahwa masalah penyanderaan ini tidak akan selesai jika wilayah selatan Filipina terutama di Mindanao masih bergejolak.

Area ini memang dijadikan basis sejumlah kelompok militan dan pemberontak FIlipina, termasuk Abu Sayyaf. Salah satu kota di Mindanao, Marawi, bahkan sempat digempur konflik bersenjata antara militer Filipina dan Abu Sayyaf serta Maute selama lima bulan pada 2017 lalu.

Sejumlah pihak bahkan menganggap wilayah Mindanao berpotensi menjadi markas baru kelompok teroris ISIS, karena sejumlah kelompok bersenjata di sana mengaku berbaiat terhadap kelompok teroris tersebut.

"Kita juga harus berusaha mencari penyelesaian membantu Filipina menyelesaikan masalah di Mindanao. Sebab, selagi pergolakan terjadi di Mindanao, limpahan (efeknya) akan sampai ke Negeri Jiran dan juga Indonesia," kata Mat Sabu.

Simak ulasan wawancara eksklusif CNNINdonesia.com dengan Menteri Pertahanan Malaysia Mohamad Sabu selengkapnya pada Selasa (28/1).




(rds/vws)