Kilas Internasional

Prabowo Bahas Su-35 hingga China Marah Bendera Virus Corona

CNN Indonesia | Kamis, 30/01/2020 06:32 WIB
Prabowo Bahas Su-35 hingga China Marah Bendera Virus Corona Sukhoi Su-35. (AFP PHOTO / JOHANNES EISELE)
Jakarta, CNN Indonesia -- Sejumlah peristiwa terjadi di berbagai belahan dunia pada Rabu (29/1). Mulai dari Prabowo bahas pembelian 11 Sukhoi Su-35 dengan Rusia hingga China marah logo bintang di bendera diubah jadi virus corona.

1. Bertemu Menhan Rusia, Prabowo Bahas Pembelian 11 Sukhoi Su-35

Menteri Pertahanan RI Prabowo Subianto dikabarkan turut membahas kelanjutan pembelian belasan jet tempur Sukhoi Su-35 saat bertemu Menhan Rusia, Jenderal Angkatan Darat Sergei Shoigu, di Moskow pada Selasa (28/1).


Duta Besar RI untuk Rusia, Wahid Supriyadi, menuturkan kontrak pembelian alat utama sistem pertahanan (alutsista) senilai Rp16,75 triliun itu tinggal menunggu proses.


"Ya tadi disinggung juga (soal pembelian Sukhoi), itu tinggal tunggu proses saja," kata Duta Besar RI di Rusia, Wahid Supriyadi, saat ditanya CNNIndonesia.com apakah pertemuan kedua Menhan membahas pembelian jet tempur tersebut melalui pesan singkat pada Rabu (29/1).

2. Serangan Rudal Iran Bikin 50 Tentara AS Cedera Otak

Jumlah tentara Amerika Serikat yang terluka akibat serangan rudal Iran di pangkalan militer Irak terus bertambah menjadi 50 orang.

Hal itu diketahui berdasarkan angka terbaru yang dirilis Kementerian Pertahanan AS atau Pentagon, Selasa (29/1).


Dikutip dari AFP, Juru Bicara Pentagon Letnan Kolonel Thomas Campbell mengatakan para tentara didiagnosis cedera otak traumatis (TBI).

3. China Marah Logo Bintang di Bendera Diubah Jadi Virus Corona

Kedutaan Besar China di Denmark menuntut permintaan maaf setelah surat kabar setempat, Jyllands-Posten menerbitkan grafik bendera China dengan mengubah lima bintang kuning menjadi partikel virus corona.

[Gambas:Video CNN]

Dikutip dari Straits Times, Rabu (29/1), China menganggap hal itu sebagai penghinaan, dan menyakiti perasaan rakyat Tiongkok.

"Tanpa simpati dan empati, ia telah melintasi garis bawah masyarakat beradab dan batas etika kebebasan berbicara dan menyinggung hati nurani manusia," kata pernyataan resmi Kedubes China. (dea)