Tolak Usul Damai Trump, Hamas-Israel Saling Serang

CNN Indonesia | Rabu, 05/02/2020 21:08 WIB
Kelompok Hamas di Jalur Gaza dan Israel kembali terlibat saling serang dipicu usul perdamaian AS. Ilustrasi serangan roket di Jalur Gaza, Palestina. Kelompok Hamas di Jalur Gaza dan Israel kembali terlibat saling serang dipicu usul perdamaian AS. (Mahmud Hams / AFP)
Jakarta, CNN Indonesia -- Kelompok Hamas di Jalur Gaza, Palestina, dilaporkan kembali melepaskan sejumlah roket ke arah Israel. Mereka melakukan hal itu tak lama setelah Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, secara sepihak mengklaim sudah menetapkan peta perdamaian antara Israel dan Palestina.

Seperti dilansir Associated Press, Rabu (5/2), milisi Hamas menembakkan sejumlah roket ke wilayah selatan Israel pada dini hari. Israel lantas membalas dengan menyerang sasaran yang diklaim sebagai gudang senjata Hamas di Jalur Gaza.


Tidak ada korban jiwa dalam kedua serangan tersebut.


Situasi Jalur Gaza dalam beberapa bulan belakangan relatif tenang setelah Hamas melarang aksi unjuk rasa di perbatasan dan tidak melepaskan bom balon ke arah Israel. Sebagai gantinya, Israel mengendurkan blokade perbatasan dengan Mesir.

Di Tepi Barat, warga Palestina melakukan aksi unjuk rasa menanggapi sikap Trump. Mereka membakar bendera Israel dan poster Trump dan Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu.

Demonstran Palestina juga terlibat bentrok dengan aparat keamanan Israel. Mereka lantas melemparkan bom molotov dan mengenai seorang prajurit Israel.

Aparat Israel diperintahkan bersikap lunak untuk menghindari jatuhnya korban supaya tidak memicu pertikaian yang lebih besar. Mereka menyatakan saat ini tengah bersiap untuk menghadapi serangan yang lebih mematikan.

[Gambas:Video CNN]

Merujuk pada proposal Trump yang diungkap ke publik pekan lalu, Israel akan mempertahankan kendalinya atas kota Yerusalem yang selama ini dipersengketakan. Israel juga akan tetap menduduki sejumlah wilayah jajahannya di Palestina.

Saling boikot

Palestina menyatakan menghentikan impor sayur mayur, buah-buahan, minuman serta air putih dari Israel. Menurut Menteri Perekonomian Palestina, Khaled al-Osaily, langkah ini diambil karena ketimpangan neraca perdagangan dengan Israel.

Dia menyatakan jumlah sayur mayur dan buah-buahan yang diimpor dari Israel mencapai US$300 juta per tahun, sedangkan nilai ekspor Palestina ke Israel hanya US$55 juta.

"Kami mengatakan kepada mereka keputusan ini adalah tanggapan terhadap langkah Israel dan akan dicabut jika mereka menuruti. Kami bisa memilih menggunakan produk itu atau tidak sama sekali," kata Khaled.

Ini adalah langkah lanjutan setelah pada September 2019 Palestina memutuskan menyetop impor daging sapi dari Israel.


Sejak itu para peternak Israel merugi karena penjualan mereka menurun. Mereka mendesak pemerintah bersikap untuk menekan Palestina.

Saat itu, Menteri Pertahanan Israel, Naftali Bennett, lantas membalas dengan melarang impor daging dan produk lain buatan Palestina. (ayp/ayp)