Jenderal Thailand Menangis Saat Jumpa Pers Soal Penembakan

CNN Indonesia | Rabu, 12/02/2020 10:02 WIB
Jenderal Thailand Menangis Saat Jumpa Pers Soal Penembakan Evakuasi warga sipil dalam insiden penembakan di Thailand. Komandan AS Thailand, Jenderal Apirat Kongsompong, siap disalahkan terkait penembakan yang menewaskan 29 orang. (AP Photo/Wason Wanichakorn)
Jakarta, CNN Indonesia -- Komandan Angkatan Darat Thailand, Jenderal Apirat Kongsompong, menyatakan siap disalahkan terkait peristiwa penembakan yang dilakukan salah satu anak buahnya, Serma Jakraphanth Thomma, yang menewaskan 29 orang. Dengan berlinang air mata dia meminta masyarakat tidak mengkritik lembaga yang dipimpinnya serta para prajurit.

"Tidak ada orang di dunia yang menginginkan peristiwa ini terjadi di negara mereka. Jangan kritik angkatan darat. Jangan salahkan prajurit. Jika ingin mengkritik atau menyalahkan seseorang, kalian bisa mengkritik Jenderal Apirat Kongsompong," kata Apirat dalam jumpa pers di Bangkok, seperti dilansir Associated Press, Rabu (12/2).


Seperti dilansir AFP, warganet Thailand ramai mengkritik angkatan darat terkait peristiwa itu. Mereka mempertanyakan mengapa pelaku bisa dengan mudah mengambil senjata dan amunisi untuk melakukan aksinya, dan reaksi aparat keamanan terkesan lambat dalam menanggapi peristiwa tersebut.


Selain itu, masyarakat Thailand juga mengkritik sistem di dalam tubuh angkatan darat. Padahal, anggaran untuk kesatuan itu selalu meningkat dan terlibat dalam politik hingga bisnis, sejak mereka melakukan kudeta enam tahun lalu.

Masyarakat Negeri Gajah Putih juga kecewa dengan sikap pemerintah yang dipimpin Perdana Menteri Prayuth Chan-o-cha, yang merupakan mantan panglima angkatan darat yang melakukan kudeta, serta kerajaan yang dianggap tidak berempati terhadap korban. Sampai saat ini dilaporkan baik pemerintah dan kerajaan belum mengirim utusan untuk menjenguk korban luka ataupun keluarga dari mereka yang meninggal dalam kejadian tersebut.

Jakraphanth diduga kecewa dengan atasannya, Kolonel Anantarote Krasae, karena tidak menerima uang dari proses jual beli rumah seperti yang dijanjikan. Hal itu yang dianggap memicu Jakraphanth kalap dan memutuskan menembak sang atasan, polisi dan warga sipil.

[Gambas:Video CNN]

Guna mencegah kejadian serupa terulang, Apirat berencana menyelidiki konflik internal antara bawahan dan atasan di tubuh angkatan darat. Namun, dia mengatakan tidak akan mengundurkan diri dari jabatannya terkait kejadian tersebut.

"Angkatan darat adalah organisasi besar yang terdiri dari ratusan ribu orang. Saya tidak mungkin mengawasi seluruh bawahan," kata Apirat.

Kesenjangan sosial dan ekonomi di dalam tubuh AD Thailand sangat mencolok. Sejumlah perwira tinggi saat ini diberi posisi sebagai anggota dewan komisaris badan usaha miliki negara dan kaya raya. Sedangkan gaji para prajurit sangat rendah.

AD Thailand juga diduga menjalankan bisnis gelap dari setiap markas mereka seperti menjadi makelar properti hingga penyedia jasa pengamanan. Para serdadu yang menjalani wajib militer kerap dijadikan asisten atau pesuruh perwira senior di rumah dinas.


Aksi Jakraphanth berhenti setelah dia tewas ditembak saat bersembunyi di mal Terminal 21, Korat, Nakhon Ratchasima pada Minggu (9/2) pukul 09.30. (ayp/ayp)


BACA JUGA