Wan Azizah Bakal Jadi PM Malaysia Jika Mahathir Resmi Mundur

CNN Indonesia | Senin, 24/02/2020 14:43 WIB
Wan Azizah Bakal Jadi PM Malaysia Jika Mahathir Resmi Mundur Wakil PM Malaysia, Datuk Seri Dr. Wan Azizah Wan Ismail. Wan Azizah bakal menjadi perempuan pertama yang menjabat perdana menteri Malaysia jika Mahathir Mohamad resmi mengundurkan diri. (AFP PHOTO / MOHD RASFAN)
Jakarta, CNN Indonesia -- Perdana Menteri Malaysia, Mahathir Mohamad, dilaporkan mengirimkan surat pengunduran diri kepada Raja (Yang Di Pertuan Agung) Malaysia, Abdullah, hari ini, Senin (24/2). Jika hal itu terjadi, maka sang wakil, Datuk Seri Dr. Wan Azizah Wan Ismail, bakal menjadi perempuan pertama yang menjabat perdana menteri di Negeri Jiran.

"Wan Azizah menjadi perdana menteri interim," kata seorang sumber seperti dikutip Malay Mail.


Kini, seluruh pihak menantikan keputusan Raja Abdullah yang kemungkinan besar akan dibacakan pada petang hari waktu setempat. Apakah dia akan mengabulkan atau menolak pengunduran diri Mahathir.


Kendati begitu, sumber menyatakan Raja Abdullah tidak bakal menyetujui langkah Mahathir.

"Yang Dipertuan Agung akan menolaknya dan mengatakan Mahathir didukung penuh oleh parlemen," kata sumber tersebut seperti dilansir Straits Times.

Kabar pengunduran diri Mahathir muncul setelah Ketua Partai Keadilan Rakyat (PKR), Anwar Ibrahim, beserta istri, Wan Azizah Wan Ismail, serta Menteri Keuangan sekaligus Ketua Partai Aksi Demokratis (DAP), Lim Guan Eng, datang ke Kantor Perdana Menteri di Putra Perdana untuk rapat pada pukul 09.26 waktu setempat. Namun, mereka meninggalkan kantor tersebut pada pukul 10.25 waktu setempat, dan diduga menuju kediaman Mahathir di Mines, Kuala Lumpur.

[Gambas:Video CNN]

Diduga mereka hendak membahas soal gagasan Mahathir yang hendak merombak kabinet dan koalisi. Politikus berusia 93 tahun itu dilaporkan hendak menggandeng partai oposisi, Partai Islam SeMalaysia (PAS) dan Partai Organisasi Nasional Melayu Bersatu (UMNO), ke dalam koalisi.

Hal ini diduga dipicu akibat keretakan di dalam tubuh Pakatan Harapan dan partai utama koalisi tersebut, PKR. Anwar sebagai ketua PKR berseteru dengan wakilnya, Muhammad Azmin Ali.

Azmin dilaporkan bertemu dengan sejumlah petinggi PAS dan UMNO pada Minggu kemarin. Pertemuan itu diduga bagian dari rencana untuk memuluskan gagasan Mahathir.

Pergolakan politik di Negeri Jiran meski Najib Razak tumbang dan Mahathir kembali berkuasa. Masalah yang selalu diangkat adalah soal kebijakan kabinet, lambatnya pertumbuhan ekonomi dan janji Mahathir untuk yang tidak akan menyelesaikan masa jabatannya, dan menyerahkannya kepada Anwar.


Masalah itu juga membuat koalisi Pakatan Harapan retak. Imbasnya adalah mereka kalah dari pihak oposisi dalam sejumlah pemilihan umum daerah yang dianggap sebagai lumbung suara. Hal ini membuat langkah mereka menuju pemilu pada 2023 mendatang dikhawatirkan semakin berat. (ayp/ayp)