Perjuangan Pasien di Singapura Keluar dari Mimpi Buruk Corona

CNN Indonesia | Rabu, 01/04/2020 10:55 WIB
Ben, salah satu pasien yang dinyatakan sembuh dari Covid-19 di Singapur mengalami perjuangan panjang keluar dari mimpi buruk akibat virus corona. Ilustrasi. Seorang pasien di Singapura menuturkan kisahnya berjuang keluar dari mimpi buruk virus corona selama 13 hari. (Foto: AP/Luca Bruno)
Jakarta, CNN Indonesia -- Ben akhirnya bangun dari mimpi buruknya setelah berhari-hari menatap suasana ruangan yang aneh dan rajutan mimpi dalam bahasa yang tak dikenal. Ia harus berjuang melawan virus corona dengan bernapas melalui selang tabung agar bisa tetap hirup.

Dokter mengatakan bahwa 80 persen pasien yang terinfeksi virus corona menderita gejala ringan. Hanya lima persen kasus yang parah dan membutuhkan perawatan intens seperti Ben.

Ia dinyatakan sembuh dari Covid-19 setelah menghabiskan perawatan di unit perawatan intensif ICU Alexandra Hospital selama 13 hari. Ben mengisahkan bagaimana para petugas di ICU membantunya berjuang bangkit melawan virus corona.


Ia dinyatakan positif mengidap Covid-19 kendati tidak memiliki riwayat bepergian ke luar negeri. Namun, ia beberapa kali mengalami gejala demam mulai 27 Februari hingga 1 Maret lalu.

Sebelum dinyatakan positif terinfeksi corona, ia sempat pergi ke klinik lantaran demamnya tak kunjung turun. Kala itu dokter hanya memberi surat medis dan memintanya pulang karena tak mengalami masalah pernapasan atau gejala Covid-19 lainnya.

Pria 55 tahun ini kemudian mendatangi Alexandra Hospital pada 5 Maret karena kembali merasakan demam. Hasil tes kemudian menunjukkan ia mengalami infeksi serius dengan tingkat oksigen yang sangat rendah.

Dokter kemudian mengirimnya ke ICU untuk diberikan lebih banyak pasokan oksigen sembari dilakukan pemantauan secara intensif.

"Karena dia membutuhkan oksigen yang cukup banyak, kami memindahkannya ke ICU untuk pemantauan lebih dekat. Kami menduga dia menderita Covid-19," kata kepala ICU, Dr Liew Mei Fong.

Kondis Ben semakin memburuk dengan demam yang naik turun serta radang di paru-paru semakin parah dan kekurangan oksigen.

[Gambas:Video CNN]

Hasil tes kemudian menunjukkan ia menderita gangguan pernapasan akut (Ards) dan dinyatakan positif Covid-19 dengan kondisi paru-paru yang parah. Kondisi Ben diperparah dengan penyakit diabetes dan hipertensi yang dimilikinya.

Dokter kemudian memutuskan untuk memasang alat bantu hidup dan memasukkan selang pernapasan yang terhubung ke ventilator ke dalam tenggorokannya untuk membantu ia bernapas. Tak hanya itu, dokter juga memberikan obat Kaletra, yang dipakai untuk kombinasi obat HIV dan disinyalir efektif bagi pasien corona.

Cemas saat kondisi memburuk

Mengetahui kondisi kesehatannya yang kian parah, Ben kemudian dilanda kecemasan. Ia lalu mengabarkan kemungkinan terburuk ke keluarga dan teman-temannya melalui pesan singkat.

"Ketika saya mendengar kata alat bantu hidup, saya hampir ketakutan. Pikiran saya kosong untuk sementara waktu," kata Ben seperti dikutip dari Straits Times, Selasa (31/3).

Dokter kemudian memberinya obat bius selama masa intubasi. Obat bius yang diberikan membuat Ben hampir tidak sadar hingga kerap berhalusinasi.

Ia merasa seperti sedang berada di ruangan kantor yang tidak dikenalnya. Pada siatuasi lain, Ben seperti mendengar kata-kata dalam Bahasa Korea yang tidak ia mengerti.

"Itu menakutkan dalam arti saya tidak punya kendali. Saya tidak bisa keluar dari situasi itu," ujarnya.
Perjuangan Pasien di Singapura Keluar dari Mimpi Buruk CoronaFoto: CNN Indonesia/Fajrian
Mimpi yang dialaminya itu terus berulang selama Ben dibius dalam masa intubasi. Dr Liew yang merawatnya mengatakan halusinasi yang dialami Ben sebagai hal wajar bagi orang yang tengah kritis dan di bawah pengaruh obat bius berdosis tingi.

Sang dokter mengatakan, pemberian obat bius sangat penting untuk memudahkan prosedur intubasi.

"Jika mereka tidak dibius dengan benar, kita tidak akan bisa meringankan mereka dalam proses bernapas dengan ventilator, dan itu akan semakin memperburuk peradangan di paru-paru," jelas Dr Liew.

Penangan tersebut rutin dilakukan selama empat hingga lima hari. Alat bantu pernapasan dan pengaruh obat bius berdosis tinggi baru mulai perlahan berkurang mulai 12 Maret.

Ia merasa lebih baik dan bisa mengingat situasi secara sadar, meski belum dapat berbicara karena pengaruh intubasi. Ben juga masih diberikan terapi oksigen melalui nasal kanula, selang bantu pernapasan yang berada di lubang hidung.

"Saya harus mengatakan bahwa mereka sangat sabar. Saya menyadari bahwa saya menjadi lebih baik karena saya bisa merespons perlahan kepada dokter atau perawat," katanya.

Meski demikian, ketika itu Ben mengaku masih mengalami mimpi-mimpi aneh dan tidak mengingat hal apapun semenjak ia masuk ICU.

Ia bahkan selalu melihat makhluk luar angkasa yang ada di film Predators di dalam kamar perawatannya. Hal itu selalu Ben alami setiap ia mencoba memejamkan matanya.

"Saya sejujurnya tidak menyadari betapa kritisnya kondisi saya saat itu," ungkapnya.

Namun, para perawat telah membantunya mengingat apa yang terjadi selama ia dirawat di rumah sakit. Mereka juga tak pernah protes ketika Ben meminta bantuan. Padahal mereka harus mengenakan APD lengkap setiap kali memasuki ruang perawatan.

Ben mengatakan, perawat yang menangani pasien virus corona di rumah sakit tempatnya dirawat berasal dari beberapa negara, yakni Malaysia, Taiwan, the Filipina, Vietnam dan Singapura.

"Saya merasa bahwa tanpa mereka, saya tidak akan sembuh dengan cepat," kata Ben.

Memasuki 17 Maret, Ben mulai dipindahkan dari ICU ke ruang isolasi. Sejak itu, ia menjalani swab test sebanyak tiga kali setiap harinya. Hingga pada 21 Maret ia dinyatakan sembuh dan diperbolehkan pulang. (ang/evn)