SUDUT CERITA

Cerita Warga Wuhan Rayakan Kebebasan Usai Lockdown Dicabut

CNN Indonesia | Rabu, 08/04/2020 15:55 WIB
Cerita Warga Wuhan Rayakan Kebebasan Usai Lockdown Dicabut China resmi mencabut lockdown Kota Wuhan. (AP/Ng Han Guan)
Jakarta, CNN Indonesia -- Air mata Guo Jing mengalir ketika Departemen Pencegahan dan Pengendalian Virus Provinsi Hubei, China, mengumumkan lockdown akan dicabut. Sejak 23 Januari lalu kota itu dikunci total untuk menekan penyebaran virus corona.

Guo Jing merupakan seorang advokat yang tinggal di Wuhan. Sudah 43 hari ia tak dapat menghirup udara segar dengan bebas karena aturan ketat pengendalian epidemi virus oleh pemerintah.

Guo tak kuasa menahan rasa lega setelah mendengar mulai tengah malam pada 8 April, penduduk Wuhan diizinkan meninggalkan kota dan Provinsi Hubei.


Berbagai transportasi ke luar seperti kereta dan pesawat akan dipulihkan dan orang-orang dengan kondisi sehat dapat bepergian.


Awalnya kabar tersebut diperoleh Guo Jing pada Senin (30/3) dari sukarelawan di kompleks tempat tinggal.

Pihak berwenang telah mengumumkan penduduk dengan kode kesehatan hijau sekarang bisa pergi keluar untuk membeli persediaan selama dua jam.

Kode kesehatan hijau merupakan tanda bagi penduduk Wuhan yang dalam keadaan sehat setelah melakukan pemeriksaan.

"Saya sangat bersemangat, saya menangis. Saya segera mendaftar untuk kode kesehatan di Alipay dan bersiap-siap untuk pergi keesokan harinya. Terakhir kali saya meninggalkan rumah adalah 26 Februari. Sudah 43 hari," ujar Guo Jing sebagaimana dilansir dari dari The Guardian.
Cerita Warga Wuhan Terbebas dari Mati Lemas karena LockdownFoto: CNN Indonesia/Fajrian

Pada 31 Maret pukul 11.35 waktu setempat, Guo akhirnya berjalan keluar dari kawasan tempat tinggal. Ia mengaku tak memiliki rencana khusus, hanya ingin melihat keadaan Wuhan yang sudah terbebas dari lockdown.

"Saya sangat ingin melihat kota ini lagi dengan mata kepala sendiri," tuturnya.

Di luar, Guo melihat banyak toko-toko yang belum dibuka kembali. Hanya beberapa toko tertentu yang terlihat beraktivitas, seperti supermarket, toko serba ada, toko mi kecil, toko elektronik, serta pusat perbelanjaan.

Banyak tempat telah dipagar, termasuk toko-toko di sepanjang jalan dan pintu masuk lorong atau gerbang ke tepi sungai.


Penduduk Wuhan sendiri memang tidak tinggal di kompleks perumahan formal dengan layanan manajemen atau halaman besar.

Sebagian besar rumah mereka kecil, dan harus tinggal lebih dari 40 hari, beberapa bahkan lebih dari 60 hari karena wabah tersebut.

Kebingungan meluangkan waktunya yang hanya dua jam, Guo akhirnya memutuskan membeli makanan ringan di toko mi terdekat.

"Karena saya hanya bisa keluar selama dua jam, saya agak bingung dan kesulitan mengambil foto yang jelas. Saya melewati sebuah toko yang menjual makanan ringan Wuhan dan membeli 10 bakso goreng seharga 21 yuan," ujarnya.

Setelah selesai makan, ia memutuskan berjalan di sepanjang tepi sungai. Sambil menghadap ke sungai Guo berteriak sekencang-kencangnya.
Cerita Warga Wuhan Terbebas dari Mati Lemas karena LockdownSambutan hangat untuk para pahlawan medis Wuhan. (STR / AFP)

Guo sudah lama memendam keinginan itu selama terkurung di rumah.

"Seseorang pernah bertanya kepada saya 'Apa hal pertama yang akan Anda lakukan setelah penguncian itu dibuka?' Saya berkata, berjalan di sepanjang sungai dan berteriak. Maka pada hari ini, saya menuju ke sungai dan melakukannya," tutur dia.

Tak hanya Guo, dua suara lain yang bersumber dari beberapa orang bergabung dengan teriakan Guo. Salah satu dari mereka bahkan berteriak tiga kali.

"Kita semua sudah terjebak terlalu lama. Kami sudah mati lemas. Saya berteriak beberapa kali lagi. Saya merasa bersemangat," ujarnya.


Di sepanjang Sungai, Guo melihat banyak orang beraktivitas. Ada orang tua yang berjalan-jalan dengan anak-anak mereka, pasangan, orang-orang yang sedang memancing.

Dua jam berlalu dirasakan Guo dengan cepat. Pada jam 1 siang, Guo berjalan pulang menuju rumah.

Untuk kebanyakan orang, berjalan di kompleks dan sungai hanyalah hal kecil. Namun bagi Guo, itu merupakan sesuatu yang besar yang sangat ingin dia dilakukan.

Kendati demikian, Guo merasa China belum sepenuhnya terbebas dari ancaman virus tersebut.

Masih banyak yang harus dilakukan untuk 'menghidupkan' kembali kota mati, dan juga perekonomian yang tergerus akibat pandemi.
Cerita Warga Wuhan Terbebas dari Mati Lemas karena LockdownFoto: CNN Indonesia/Fajrian

"Banyak bisnis bangkrut, dan orang-orang kehilangan pekerjaan. Bagaimana kami bisa memastikan mata pencaharian mereka? Semua pertanyaan ini menuntut pemerintah dan masyarakat untuk menghadapi kebenaran dan bertanggung jawab. Namun sejauh ini, kami belum melihat kebijakan komprehensif diumumkan," tuturnya.

Saat ini banyak kasus baru di China yang berasal dari luar negeri di mana itu berpotensi melahirkan gelombang kedua wabah virus corona.

Untuk menghadapi hal tersebut, Guo berpendapat setiap orang harus mengambil langkah-langkah perlindungan, dan pemerintah memperlakukan mereka yang terinfeksi dengan bijak.

"Mampu meninggalkan kompleks lingkungan kami adalah satu langkah kecil. Menghidupkan kembali kota, ini masih jauh," kata dia. (ara/dea)

[Gambas:Video CNN]