Meski begitu, dalam jumpa pers virtual, Retno menuturkan rencana evakuasi itu harus tertunda sampai proses karantina ratusan WNI itu selesai.
Para WNI itu terpaksa menjalani karantina setelah pemerintah India menetapkan bahwa acara Jamaah Tabligh yang mereka hadiri sekitar Maret lalu menjadi klaster penyebaran corona di negara itu.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selain masih harus merampungkan proses karantina, Retno menuturkan rencana evakuasi menjadi lebih kompleks lantaran puluhan WNI peserta Jamaah Tabligh terjerat masalah hukum di India.
Foto: CNNIndonesia/Basith Subastian |
Retno mengatakan pemerintah India menetapkan para WNI itu melanggar aturan pembatasan pergerakan atau lockdown. Sebab, kebanyakan dari WNI itu mengikuti acara Jamaah Tabligh ketika kebijakan larangan berkumpul dan lockdown berlangsung.
"Situasi menjadi lebih kompleks karena ada tuduhan pelanggaran hukum terutama soal aturan visa dan lain-lain," ujar Retno.
[Gambas:Video CNN]
Meski begitu, Retno menegaskan bahwa KBRI New Delhi terus berkomunikasi dengan perwakilan WNI peserta Jamaah Tabligh. Ia menuturkan sejauh ini ratusan WNI itu dalam kondisi baik.
Selain di India, total sejauh ini ada 918 WNI anggota Jamaah Tabligh yang juga terdampak situasi Covid-19 di beberapa negara seperti Pakistan, Filipina, Malaysia, dan Bangladesh.
Acara Jamaah Tabligh yang digelar di sejak 3 Maret hingga akhir Maret lalu di Nazamuddin, New Delhi, dihadiri 7.600 warga India dan sekitar 1.300 jemaah warga asing, termasuk dari Indonesia.
Selain menyegel markas Jamaah Tabligh di India, kepolisian India juga telah mendakwa sang pemimpin organisasi cabang India, Muhammad Saad Khandalvi, dengan tuduhan pembunuhan lantaran berkeras menggelar pertemuan meski telah berlaku larangan berkumpul dan penerapan lockdown. (rds/evn)
Foto: CNNIndonesia/Basith Subastian