UNHCR mengatakan para pengungsi perempuan kemungkinan dipaksa menjalani pernikahan anak atau melakukan hubungan seks yang tidak diinginkan demi bertahan hidup.
Kebijakan penguncian wilayah atau lockdown untuk mengendalikan penyebaran Covid-19 justru memberikan dampak merugikan bagi mereka. Pergerakan para pengungsi perempuan menjadi terbatas dan mereka tidak bisa mengakses layanan pendukung.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Mereka (pengungsi perempuan) termasuk diantara yang paling berisiko. Akses tidak boleh dibiarkan terbuka bagi para pelaku kekerasan dan tidak ada bantuan untuk menyelamatkan mereka dari pelecehan dan tindak kekerasan," ujarnya menambahkan.
Foto: CNN Indonesia/Fajrian |
"Mereka mungkin dipaksa melakukan hubungan seks untuk bertahan hidup, atau pernikahan di bawah umur oleh keluarga mereka," ujar Triggs.
Untuk mengatasi risiko tersebut, UNHCR mendistribusikan bantuan darurat berupa yang bagi para penyintas dan perempuan yang dianggap berisiko mengalami kekerasan berbasis gender.
Triggs mengatakan pemerintah yang memberlakukan lockdown seharusnya bisa memperhitungkan adanya potensi peningkatan risiko kekerasan terhadap perempuan dalam rencana aksi mengatasi penyebaran virus corona. Salah satunya yakni dengan tetap membuka akses terhadap layanan untuk korban kekerasan berbasis gender.
Berdasarkan data yang dirilis oleh UNHCR hingga 2019 ada 70,8 juta pengungsi di seluruh dunia., sekitar 37 ribu orang terpaksa meninggalkan rumah mereka setiap harinya untuk menghindari konflik atau tindak kekerasan. (evn)
Foto: CNN Indonesia/Fajrian