Analisis

Ketangkasan China Ubah Narasi Corona di Tengah Tekanan AS

CNN Indonesia | Kamis, 23/04/2020 11:48 WIB
China's President Xi Jinping (R) greets US President Donald Trump before a bilateral meeting on the sidelines of the G20 Summit in Osaka on June 29, 2019. (Photo by Brendan Smialowski / AFP) Presiden Amerika Serikat Donald Trump saat berjabat tangan dengan Presiden China Xi Jinping. Brendan Smialowski / AFP)
Jakarta, CNN Indonesia -- Persaingan antara Amerika Serikat dan China tampaknya tidak terhalang oleh pandemi virus corona (Covid-19).

Krisis pandemi global ini bahkan dinilai ahli politik internasional tetap dijadikan area bertarung kedua negara adidaya tersebut demi memperbaiki citra atau meningkatkan pamor.

"Segala momentum pasti dimanfaatkan kedua negara untuk saling menjatuhkan lawan dan menunjukkan siapa yang bisa dipercaya. Ibaratnya (pandemi corona) ini pertarungan head to head antara adikuasa yang sedang turun pamor (AS) dengan adikuasa yang sedang naik pamor (China)," kata Dosen Ilmu Hubungan Internasional dari Universitas Padjajaran, Teuku Rezasyah, saat dihubungi CNNIndonesia.com pada Selasa (21/4).


Kedua negara kembali terlibat adu mulut dengan saling menuding sebagai biang keladi dari virus yang telah menginfeksi lebih dari 2,6 juta orang di 210 negara dan wilayah di dunia itu.

Presiden Donald Trump berupaya membangun narasi negatif terhadap China dengan menyebut Covid-19 sebagai 'virus China'.


Virus serupa SARS itu memang diyakini pertama kali muncul dan menyebar dari sebuah pasar tradisional yang menjual hewan liar di Kota Wuhan, Provinsi Hubei, China, sekitar Desember 2019 lalu.

Namun, banyak pihak yang masih meragukan anggapan itu lantaran China dianggap tidak pernah benar-benar terbuka menyelidiki hal tersebut. China sendiri menyatakan tidak ada bukti bahwa wabah itu dimulai di sana.

Trump berulang kali menganggap China tidak transparan mengenai bagaimana awal mula Covid-19 muncul dan berbagai data lainnya terkait perkembangan penyebaran virus tersebut.

Tudingan itu lantas didukung sejumlah negara Barat seperti Inggris dan Prancis yang mendesak pemerintahan Presiden Xi Jinping untuk membuka semua data awal mula kemunculan virus.

AS menuding virus itu muncul dan menyebar akibat kebocoran salah satu laboratorium di Wuhan. Trump bahkan ngotot ingin mengirim penyelidik ke sana. Namun, China membantah hal tersebut.
Ketangkasan China Ubah Narasi Corona di Tengah Tekanan ASFoto: CNNIndonesia/Basith Subastian

Menurut Rezasyah, China paham betul bahwa posisinya sangat dirugikan akibat kemunculan pandemi ini. 

Alih-alih berkoar ke dunia luar layaknya AS, Rezasyah mengatakan China lebih memilih bermain cerdik dengan memaksimalkan diplomasi dalam mengubah narasi negatif yang melekat pada negaranya akibat wabah ini.

Tiongkok tampil ke panggung dunia sebagai negara yang berhasil membendung virus corona. Bahkan di ambang kemenangan.

Pelan namun pasti, China mulai mengulurkan tangan ke sejumlah negara sangat terdampak penyebaran corona.

Rezasyah melihat China tahu betul yang dibutuhkan saat ini adalah kepercayaan publik internasional demi meningkatkan pamor yang tercoreng corona.


China dengan cepat berupaya memposisikan diri sebagai negara dermawan yang peduli dan mampu membantu negara lain di tengah pandemi yang masih merongrong negaranya sendiri.

Pada Maret lalu, China mengirimkan dua juta masker medis, 200 ribu masker N95, dan 50 ribu test kit ke Italia, salah satu negara paling terdampak corona. 

China juga mengerahkan puluhan tenaga medis ke Italia demi membantu pemerintahan Perdana Menteri Giuseppe Conte menanggulangi wabah tersebut.

Presiden Xi Jinping bahkan menjanjikan bantuan kepada Spanyol dan Prancis. 

Kolom majalah Foreign Policy menuliskan Italia dan negara Eropa menjadi kawasan ideal bagi Xi Jinping untuk mengubah narasi yang melekat pada negaranya dari semula disebut sebagai 'sumber penyebaran virus' menjadi 'negara dermawan. 
Ketangkasan China Ubah Narasi Corona di Tengah Tekanan ASFoto: CNN Indonesia/Fajrian

Berbeda dengan China, pemerintahan Trump justru malah menarik bantuan AS ke WHO di tengah pandemi. Pemutusan bantuan itu dilakukan Trump yang marah karena menganggap WHO membela China yang "tidak transparan".

AS merupakan donor terbesar WHO selama ini. Negeri Paman Sam menyumbangkan lebih dari $400 juta bagi WHO pada 2019 lalu.

Rezasyah melihat strategi itu cukup berhasil bagi propaganda China yang berupaya menutupi tanggung jawab sebenarnya terkait penyebaran virus corona secara global.

"Di sini lah kehebatan soft power dan diplomasi global China yang bisa mengubah narasi negatif menjadi positif sangat cepat dan di luar bayangan banyak orang. China memang memiliki kemampuan mengelola krisis luar biasa yang diuntungkan dari pemerintahannya yang sentralistik dan rakyat yang patuh," kata Rezasyah.


Rezasyah menilai China memiliki diplomasi global dan ekonomi yang kuat dan itu telah dibangun secara konsisten dan bersinergi oleh Xi Jinping sejak lama demi mengantisipasi insiden-insiden seperti ini.

Ia mengatakan jika China bisa terus konsisten membangun diplomasi dan soft power ini, dalam sepuluh tahun ke depan bisa jadi Negeri Tirai Bambu benar-benar menggeser posisi Negeri Paman Sam sebagai negara superpower.

"Alih-alih terpuruk, China pelan namun pasti berhasil mengubah narasi pandemi corona ini untuk meningkatkan kepercayaan publik internasional terkait kepemimpinannya di dunia global. Jika AS tidak hati-hati, ini bisa mengarah ke sana (pergeseran kedudukan superpower)," ucap Rezasyah.

Meski begitu, Rezasyah tak begitu yakin bahwa pandemi corona merupakan titik perubahan geopolitik global dan tatanan global antara China dan AS.
Ketangkasan China Ubah Narasi Corona di Tengah Tekanan ASSambutan hangat untuk para pahlawan medis Wuhan, China. (STR / AFP)

Ia hanya melihat pandemi ini momentum bagi kedua negara adidaya untuk menunjukkan siapa yang lebih bisa diandalkan.

"Dan tampaknya China yang berhasil mengambil kesempatan ini. Di sisi lain, kita lihat AS. Sekarang Trump bahkan berdebat dengan para pemimpin negara bagian AS soal penanganan corona. Sementara China selalu satu suara. China berhasil menunjukkan good governance dalam menyikapi pandemi ini," kata Rezasyah.

Senada dengan Rezasyah, Profesor Emeritus sekaligus Dekan Sekolah Kepemerintahan Universitas Harvard, Joseph S Nye, mengatakan pandemi corona tidak akan mengubah tatanan global terutama terkait posisi AS dan China.

Menurut dia, krisis wabah corona ini hanya sebatas area persaingan AS-China yang baru. Nye mengatakan baik China dan AS sama-sama salah mengambil langkah di awal penyebaran pandemi ini.


Ia menganggap Trump dan Xi sama-sama mengawali respons global terkait wabah corona dengan penyangkalan dan misinformasi. 

Di satu sisi, China sempat dianggap berupaya menutup rapat terkait kemunculan virus ini. Di sisi lain, Trump sempat meremehkan ancaman virus ini yang sekarang membuat AS sebagai negara dengan jumlah kasus dan kematian corona tertinggi di dunia.

"Respons kedua negara hanya menimbulkan kebingungan dan membuang-buang waktu serta kesempatan untuk mempererat kerja sama internasional dalam menangani wabah ini," kata Nye dalam kolomnya di majalah Foreign Policy berjudul No, the Coronavirus Will Not Change the Global Order.

"Kedua negara ekonomi terbesar di dunia itu malah terlibat pertempuran propaganda. China mengklaim militer AS terlibat penyebaran virus corona, sementara Trump terus menyebut virus corona adalah "virus China" ujarnya menambahkan. (rds/dea)

[Gambas:Video CNN]