Seperti dilansir CNN, Jumat (24/4), Matsui menganggap wanita terlalu lama saat belanja bahan pangan dan berkontribusi terhadap kepadatan di supermarket.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Perempuan membutuhkan waktu lebih lama berbelanja bahan makanan karena mereka menelusuri berbagai produk dan mempertimbangkan pilihan mana yang lebih baik," kata Matsui kepada wartawan pada konferensi pers virus corona di Osaka.
"Pria dengan cepat mengambil apa yang diperintahkan untuk dibeli sehingga mereka tidak akan berlama-lama di supermarket, sekaligus menghindari kontak dekat dengan orang lain," tambah Matsui.
Komentar Matsui menuai tanggapan dari seorang jurnalis populer di Jepang, Shoko Egawa. Dia menulis melalui akun Twitternya, "Orang yang tidak tahu apa-apa tentang kehidupan sehari-hari tidak boleh berkomentar."
Menurut data Bank Dunia, persentase perempuan di Jepang mencapai 51 persen dari populasi Negeri Sakura. Namun, Jepang berada di peringkat 110 dari 149 negara dalam indeks World Economic Forum untuk ukuran tingkat kesetaraan gender.
Jepang juga berada di peringkat bawah di antara negara-negara G7 untuk kesetaraan gender, meskipun Perdana Menteri Shinzo Abe berjanji untuk memberdayakan perempuan melalui kebijakan yang disebut "womenomics."
Pada pertengahan April, Jepang hanya melakukan uji virus corona terhadap sekitar 90.000 orang dari 127 juta jiwa.
Sedangkan Korea Selatan telah menguji lebih dari 513.000 orang dari 51 juta penduduk.
(CNN Indonesia/Fajrian) |
(CNN Indonesia/Fajrian)