Ratusan Gubuk Pengungsi Rohingya di Bangladesh Terbakar

CNN Indonesia | Rabu, 13/05/2020 20:50 WIB
Rohingya refugees walk to attend a ceremony organised to remember the first anniversary of a military crackdown that prompted a massive exodus of people from Myanmar to Bangladesh, at the Kutupalong refugee camp in Ukhia on August 25, 2018.




Thousands of Rohingya refugees staged protests for Ilustrasi pengungsi Rohingya di perbatasan Bangladesh. (AFP PHOTO / Dibyangshu SARKAR)
Jakarta, CNN Indonesia -- Kebakaran menghanguskan 330 gubuk pengungsi Rohingya di kawasan Cox's Bazar, Bangladesh, pada Selasa (12/5) kemarin.

Seperti dilansir AFP, Rabu (13/5), sebanyak 10 orang terluka dalam kejadian tersebut.
Menurut petugas pemadam kebakaran setempat, Emdadul Haq, kebakaran itu menghanguskan ratusan gubuk dan warung di kamp pengungsian Kutupalong. Api diduga berasal dari toko penjual gas.

"Sepuluh orang terluka dalam kejadian itu. Ini adalah kebakaran terbesar di kamp tersebut," kata Emdadul.


Tidak ada korban jiwa dalam kejadian tersebut. Kutupalong adalah salah satu kamp pengungsian terbesar di dunia.

Pejabat badan urusan pengungsi Bangladesh, Shamsud Douza, mengatakan seluruh korban luka langsung dilarikan ke rumah sakit setempat.


Badan Perserikatan Bangsa-Bangsa Urusan Pengungsi (UNHCR) menyatakan mengerahkan tim untuk membantu para pengungsi yang terdampak kebakaran.

Para pakar dan relawan sudah memperingatkan bahwa kamp pengungsian yang sangat padat itu rentan terhadap kebakaran.

"Kami telah melihat langsung kebakaran dalam skala yang lebih kecil, tetapi tidak pernah melihat kerusakan yang sangat besar seperti saat ini. Banyak penduduk yang mencoba bertahan hidup dengan membuka toko kecil-kecilan. Mereka yang paling terdampak," kata tokoh Rohingya, Abdur Rahim.

Sampai saat ini ada lebih dari satu juta etnis Rohingya yang tinggal di kamp pengungsian di perbatasan Bangladesh.

[Gambas:Video CNN]

Mereka kabur akibat dikejar pasukan Myanmar yang terlibat konflik dengan pemberontak etnis Arakan di Negara Bagian Rakhine, Myanmar, pada 2017. (ayp/ayp)

[Gambas:Video CNN]