Anak Jamal Khashoggi Memaafkan Pelaku Pembunuhan Sang Ayah

CNN Indonesia | Jumat, 22/05/2020 09:20 WIB
A demonstrator dressed as Saudi Arabian Crown Prince Mohammed bin Salman (C) with blood on his hands protests outside the Saudi Embassy in Washington, DC, on October 8, 2018, demanding justice for missing Saudi journalist Jamal Khashoggi. - US President Donald Trump said October 10, 2018 he has talked to Saudi authorities Pedemo menuntut keadilan atas kasus pembunuhan sadis Jamal Khashoggi yang diduga dilakukan oknum pemerintah Arab Saudi. (Jim WATSON / AFP)
Jakarta, CNN Indonesia -- Anak-anak wartawan Arab Saudi, Jamal Khashoggi, yang terbunuh mengatakan pada Jumat (22/5) bahwa mereka "memaafkan" para pembunuh ayah mereka.

"Kami putra-putra sang martir Jamal Khashoggi mengumumkan bahwa kami memaafkan dan mengampuni mereka yang telah membunuh ayah kami," kata salah satu anak mendiang kolumnis Washington Post itu, Salah Khashoggi, melalui cuitannya di Twitter.

Meski demikian, dalam pengumuman tersebut tak diketahui lebih lanjut soal nasib tuntutan hukum Salah di meja hijau Arab Saudi.


Khashoggi - orang dalam keluarga kerajaan yang berubah menjadi kritikus  - terbunuh dan dipotong-potong di konsulat kerajaan di Istanbul pada 2 Oktober 2018, dalam kasus yang memicu kemarahan internasional.

Operasi itu melibatkan 15 agen yang dikirim dari Riyadh, kata pemerintah Turki. Jasadnya tidak pernah ditemukan.

Dari 11 orang yang didakwa dalam kasus ini, lima dijatuhi hukuman mati, tiga menghadapi hukuman penjara total 24 tahun, dan yang lainnya dibebaskan, kata jaksa penuntut umum pada bulan Desember.

Salah sebelumnya mengatakan dia memiliki "kepercayaan penuh" pada sistem peradilan, dan mengkritik lawan yang katanya berusaha untuk mengeksploitasi kasus ini.

Washington Post melaporkan pada bulan April bahwa anak-anak Khashoggi, termasuk Salah, telah menerima rumah bernilai jutaan dolar dan dibayar ribuan dolar per bulan oleh pihak berwenang.

Tapi Salah menolak laporan itu, membantah telah mendiskusikan penyelesaian kasus dan keuangan dengan pemerintah Saudi.

Baik CIA dan utusan khusus PBB telah secara langsung menghubungkan penguasa de facto Putra Mahkota Mohammed bin Salman dengan pembunuhan itu, sebuah tuduhan yang dibantah kerajaan Arab Saudi.

[Gambas:Video CNN]

(AFP/ard)