Kasus Corona Naik, Iran Larang Warga Mudik saat Idul Fitri

CNN Indonesia | Jumat, 22/05/2020 17:17 WIB
A worker disinfects a public bus against coronavirus in the city of Ahvaz in southwestern, Iran, in early morning of Tuesday, Feb. 25, 2020. Iran's government said Tuesday that more than a dozen people had died nationwide from the new coronavirus, rejecting claims of a much higher death toll of 50 by a lawmaker from the city of Qom that has been at the epicenter of the virus in the country. (Alireza Mohammadi/ISNA via AP) Ilustrasi penyemprotan cairan disinfektan di moda transportasi umum di Iran, untuk mencegah penyebaran virus corona. (AP/Alireza Mohammadi)
Jakarta, CNN Indonesia -- Pemerintah Iran pada Kamis (22/5) kemarin memutuskan melarang seluruh kegiatan bepergian, termasuk pulang kampung, saat libur hari raya Idul Fitri untuk mencegah penyebaran virus corona (Covid-19).

Seperti dilansir AFP, Jumat (22/5), kebijakan itu diambil setelah kembali terjadi kenaikan kasus infeksi virus corona di Iran.


"Keprihatinan kami adalah kembali terjadi kenaikan kasus di negara ini karena penduduk tidak mematuhi peraturan. Jadi saya meminta kepada seluruh warga Iran, jangan bepergian saat libur Idul Fitri. Jika bepergian maka dikhawatirkan terjadi lagi infeksi Covid-19," kata Menteri Kesehatan Iran, Saeed Namaki.


Idul Fitri di Iran kemungkinan besar jatuh pada Minggu (25/5) mendatang, tidak jauh berbeda dari Indonesia.

Menurut juru bicara Kemenkes Iran, Kianoush Jahanpour, sampai saat ini jumlah kasus virus corona di negara itu mencapai 129.341 orang. Sebanyak 7.249 di antaranya meninggal.

Iran masih menjadi negara dengan kasus virus corona tertinggi di kawasan Timur Tengah.

Jahanpour mengatakan penambahan kasus tersebut diakibatkan masyarakat di daerah yang menjadi pusat penyebaran tidak mengikuti anjuran pemerintah, seperti menjaga jarak atau tidak bepergian jika tidak ada urusan mendesak.


"Di provinsi Khuzestan dan sejumlah provinsi lain terus terjadi penambahan kasus, dan kami menemukan para penduduk tidak menjalankan perintah pemerintah," kata Jahanpour.

Kasus pertama virus corona di Iran terdeteksi pada 19 Februari lalu, di kota suci kaum Syiah, Qom.

Pemerintahan Presiden Iran, Hassan Rouhani, dihujani kritik karena dianggap lamban bertindak hingga akhirnya virus corona menyebar ke seluruh negeri. (ayp/ayp)

[Gambas:Video CNN]