Jepang Berencana Percepat Cabut Status Darurat Corona

fea, CNN Indonesia | Senin, 25/05/2020 14:10 WIB
FILE - In this April 22, 2020, file photo, people wearing masks to protect themselves against the spread of the new coronavirus queue up to buy lunch at a shop in Tokyo. Under Japan's coronavirus state of emergency, people have been asked to stay home. Many are not. Some still have to commute to their jobs despite risks of infection, while others are dining out, picnicking in parks and crowding into grocery stores with scant regard for social distancing. (AP Photo/Eugene Hoshiko, File) Suasana di Jepang semasa pandemi virus corona (Covid-19). (AP Photo/Eugene Hoshiko)
Jakarta, CNN Indonesia -- Jepang berencana mencabut status darurat virus corona (Covid-19) dari Tokyo dan prefektur lainnya, yakni Kanagawa, Saitama, Chiba, dan area utara Hokkaido lebih cepat dari jadwal. Status darurat di Jepang dijadwalkan berakhir pada 31 Mei.

Status darurat di Jepang mulai ditetapkan pada 7 April secara bertahap. Tokyo masuk pada tahap awal kemudian menyebar ke seluruh negeri dalam sebulan lantas diperpanjang hingga akhir Mei.

Sebanyak 42 prefektur lain di Jepang sudah tidak lagi berada dalam status darurat.



Menteri Perekonomian Jepang Yasutoshi Nishimura dalam rapat penanganan pada Senin (25/5) bertanya pada para ahli panel untuk mengevaluasi rencana mencabut status darurat. Rapat itu bakal menentukan langkah pemerintah selanjutnya.

"Kelihatannya tidak diperlukan lagi di semua prefektur," kata Nishimura diberitakan apnews.com.

Para ahli itu diharapkan menyetujui rencana saat rapat, kemudian membuka jalur pengumuman resmi pencabutan status darurat oleh Perdana Menteri Shinzo Abe.

Status darurat di Jepang berujung pada penguncian wilayah (lockdown). Meski demikian Jepang menerapkan lockdown lebih lunak dibanding negara-negara di Eropa.

Jepang meminta warga tetap di rumah dan menutup bisnis di luar kebutuhan pokok atau tetap buka dengan jam operasional terbatas. Strategi seperti ini dilakukan negara untuk mengurangi dampak negatif perekonomian.

Selama beberapa pekan terakhir banyak orang sudah kembali bekerja, belanja, dan beraktivitas lainnya dengan gaya hidup baru 'new normal' yang menjaga jarak dan melindungi diri dari virus.


Menurut data yang dimiliki Nishimura jumlah infeksi telah cukup melambat dan bagian medis sudah tidak lagi dalam tekanan besar. Pendekatan itu yang membuat aktivitas sosial dan ekonomi dirasa sudah bisa dibuka kembali.

Sejauh ini menurut Kementerian Kesehatan Jepang terdapat 16.580 kasus positif, sebanyak 830 orang telah dinyatakan meninggal. (fea)

[Gambas:Video CNN]