Rekaman video yang beredar menunjukkan mayoritas pedemo yang ditangap polisi merupakan remaja yang diduga terprovokasi untuk ikut melakukan aksi protes.
Polisi mengatakan petugas di lapangan menemukan sejumlah bom molotov dan benda-benda tajam seperti masker respirator, palu, dan tang saat melakukan penyisiran dari kubu pedemo.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Polisi yang mengamankan kantor Dewan Legislatif memblokade jalan dan menyemprotkan bubuk merica dan gas air mata untuk membubarkan massa.
[Gambas:Video CNN]
Nathan Law, advokat pro-demokrasi mengatakan pemerintah harus mengerti alasan aksi protes yang memicu amarah warga. Ia bahkan mengibaratkan pengamanan polisi kali ini seperti halnya pemberlakuan darurat militer.
"Ini seperti sedang diberlakukan jam malam de facto. Polisi ada di setiap sudut jalan. Saya pikir pemerintah harus mengerti mengapa orang benar-benar marah," ujar Nathan kepada AFP.
"Penegakan tindakan tegas akan diambil. Pelanggar akan ditangkap dan kendaraan apapun yang menyebabkan hambatan serius akan segera ditindak," kata pihak kepolisian.
Polisi juga mengklaim menghormati hak warga untuk mengekspresikan pendapat secara damai, namun tetap harus dilakukan secara hukum dan menghindari kerumunann yang menghalangi jalan. (afp/evn)