WHO Waspadai Banyak Kematian di Puncak Kedua Pandemi Corona

CNN Indonesia | Jumat, 29/05/2020 13:36 WIB
Civil Defence members carry a patient on a stretcher as they arrive at the Severo Ochoa hospital in Leganes, on March 26, 2020. - Spain's coronavirus death toll surged above 4,000 today but the increase in both fatalities and new infections slowed, leaving officials hopeful a nationwide lockdown is starting to curb the spread of the disease. A total of 655 deaths were recorded in the country in the last 24 hours, bringing the toll to 4,089, the health ministry said. (Photo by JAVIER SORIANO / AFP) Ilustrasi tenaga medis membawa pasien virus corona. (AFP/JAVIER SORIANO)
Jakarta, CNN Indonesia -- WHO memperkirakan bahwa puncak kedua pandemi virus corona tidak akan terlihat secara bertahap seperti gelombang infeksi.

Direktur Eksekutif Program Kedaruratan Kesehatan WHO, Mike Ryan mengatakan gelombang kedua Covid-19 berupa lonjakan kasus mendadak yang bisa membebani sistem perawatan kesehatan, dan kemungkinan menyebabkan lebih banyak kematian.

"Kita mungkin berada di puncak kedua (pandemi) dengan cara ini," kata Mike Ryan seperti dikutip dari CNN, Jumat (29/5).
 
Menurut WHO, saat ini dunia masih berada dalam gelombang pertama virus corona dan kasus infeksi masih terus meningkat. Angka infeksi ini bisa tiba-tiba melonjak secara signifikan.



Para ahli penyakit menular meyakini penyebaran virus corona akan kembali melonjak ketika musim panas berakhir, namun mereka tidak mengetahui seberapa parah lonjakannya.


Dalam skenario pertama puncak kedua pandemi, kasus-kasus virus corona akan meningkat tajam dan cepat hingga mencapai titik puncak yang baru.
 
Pada gelombang kedua, infeksi bisa diketahui lebih lambat dan berdampak di seluruh dunia dalam waktu berbeda.
 
Namun pada skenario kedua di mana kurva sudah mulai rata, akan lebih banyak orang terinfeksi virus corona di saat yang sama. Lalu pada saat musim penyakit flu, ini akan membebani sistem perawatan medis.
 
Direktur departemen kedokteran darurat di Johns Hopkins University, Gabe Kelen mengatakan ketika rumah sakit dan petugas kesehatan kewalahan, ada kemungkinan tinggi untuk mencegah angka kematian.
Foto: CNN Indonesia/Fajrian
 
"Satu-satunya alasan nyata untuk meredam puncak (pandemi) ini adalah mencegah kematian yang bisa dicegah, sehingga sistem perawatan kesehatan dapat menangani semua orang yang membutuhkan (perawatan) dan memberi upaya pemulihan terbaik," kata Kelen.
 
Itu sebabnya mengapa banyak orang yang membuat data tentang perataan kurva, karena semakin stabil tingkat infeksi, maka akan semakin mudah untuk ditangani.
 
Jika rumah sakit kewalahan menangani pasien Covid-19 ditambah kurangnya fasilitas kesehatan, ditakutkan akan lebih banyak mengakibatkan kematian yang sia-sia.
 
Puncak kedua pandemi diprediksi akan terjadi selama musim gugur atau di akhir musim dingin, bertepatan dengan musim flu.

 
Namun jika saat ini banyak negara membuka pembatasan, maka penularan skala besar akan terjadi dan dunia akan kembali memasuki fase awal ketika virus ini menyebar.
 
Lonjakan kasus bisa terjadi di awal Juni. Pembukaan pembatasan juga bisa mempengaruhi waktu dan tingkat keparahan infeksi.
 
Episentrum virus corona

WHO menilai masih ada beberapa titik episentrum virus corona di seluruh dunia yang menyebabkan kekhawatiran meningkatnya kasus.
 
Pemimpin teknis tanggapan virus corona WHO, Maria Van Kerkhove mengatakan pihaknya mencermati peningkatan kasus di Rusia, Afrika, Amerika, beberapa negara di Asia Selatan, dan Eropa.
 
"(Negara-negara) itu adalah area yang kami khawatirkan karena seperti yang kita ketahui, ketika virus ini memiliki kesempatan untuk benar-benar bertahan, ia bisa tumbuh dengan sangat, sangat cepat," kata Van Kerkhove.
 

Dia berharap penggunaan vaksin bisa direalisasikan di akhir tahun, tapi hanya jika semua berjalan dengan baik. Saat ini, para ilmuwan bekerja sepanjang waktu meneliti lebih dari 100 vaksin potensial virus corona.
 
Hingga saat ini, jumlah kasus virus corona di seluruh dunia mencapai 5.909.003 jiwa, 362.081 kematian, dan 2.581.951 dinyatakan sembuh. AS menempati posisi pertama penderita Covid-19 terbanyak dengan total 1.768.461 kasus. (ans/dea)

[Gambas:Video CNN]