Jepang Temukan Lonjakan Kasus Baru, Siaga Gelombang II Corona

CNN Indonesia | Jumat, 29/05/2020 14:44 WIB
People wearing face shield, eat together at a pub in Osaka, western Japan Monday, May 25, 2020 as Japan has lifted the coronavirus state of emergency in Osaka and the two neighboring prefectures of Kyoto and Hyogo.  (Suo Takekuma/Kyodo News via AP) Ilustrasi pandemi virus corona di Jepang. (AP/Suo Takekuma)
Jakarta, CNN Indonesia -- Pemerintah Jepang mendeteksi 63 kasus positif baru virus corona (Covid-19) dan tujuh kematian pada Kamis (28/5). Jumlah itu menjadi lonjakan terbesar dalam sehari sejak 14 Mei lalu.

Pihak berwenang melaporkan 21 dari 63 kasus Covid-19 baru itu terdapat di selatan Kota Kitakyushu. Padahal, kota yang terletak di prefektur Fukuoka itu telah melaporkan nihil kasus corona selama 23 hari terakhir.


Per hari ini, Jumat (29/5), Kota Kitakyushu telah melaporkan 43 kasus baru.


Dilansir dari CNN, lonjakan kasus baru yang muncul ini meningkatkan kekhawatiran warga terkait potensi gelombang kedua penularan pandemi corona di Negeri Matahari Terbit.
Foto: CNN Indonesia/Fajrian

Pemerintahan Perdana Menteri Shinzo Abe baru secara resmi mencabut status darurat nasional pandemi corona setelah mengklaim berhasil meratakan kurva penyebaran virus tersebut pada awal pekan ini.

Status darurat itu diterapkan Jepang sekitar Maret lalu dan diperluas pada April lalu. Dengan status darurat itu, warga diimbau melakukan karantina mandiri dan berdiam di rumah.


Namun, status darurat di Jepang tidak mengikat warga lantaran tidak ada sanksi atau denda bagi pelanggar sehingga masih memungkinkan melakukan perjalanan, termasuk bekerja di kantor meski jam kerjanya dikurangi.

Temuan puluhan penularan baru ini pun menjadikan total kasus corona yang terdapat di Jepang menjadi 17.431 kasus dengan 887 kematian. 


Belasan ribu penularan corona itu termasuk kasus-kasus yang terdapat di kapal pesiar Diamond Princess yang sempat terdampar dan dikarantina di perairan Yokohama karena membawa ratusan penumpang positif Covid-19. (rds/dea)

[Gambas:Video CNN]