Gubernur New York Minta Pedemo George Floyd Dites Corona

CNN Indonesia | Jumat, 05/06/2020 07:48 WIB
People protest outside the Palace of Justice Tuesday, June 2, 2020 in Paris. French authorities banned the protest over racial injustice and heavy-handed police tactics as global outrage over what happened to George Floyd in the United States kindled frustrations across borders and continents. Family and friends of Adama Traore, a French black man who died shortly after he was arrested by police in 2016, call for a protest which will also pay homage to George Floyd. (AP Photo/Michel Euler) Gelombang protes kematian George Floyd di AS dalam 9 hari terakhir. (Foto: AP/Michel Euler)
Jakarta, CNN Indonesia -- Gubernur New York Andrew Cuomo meminta ribuan pedemo yang menggelar aksi protes kematian George Floyd untuk melakukan tes virus corona.

Cuomo meminta hal tersebut lantaran khawatir penyebaran virus yang terjadi ketika pedemo tidak menjaga jarak. Terlebih saat ini New York mulai melonggarkan lockdown dan akan membuka kembali sektor bisnis setelah kurva penurunan kasus baru corona.

"Jika Anda ikut serta dalam demo, silahkan tes, tolong. Para pengunjuk rasa memiliki tugas sipil di sini (untuk melakukan tes). Bertanggung jawab dan ikut tes," ujar Cuomo seperti mengutip AFP.


Ia memperkirakan sekitar 20 ribu warga New York turun ke jalan untuk menunjukkan aksi solidaritas antirasisme.

Cumo memperluas kriteria pengujian virus corona dengan memasukkan pedemo kematian George Floyd yang turun ke jalan selama sembilan hari terakhir.

"Kota New York memiliki jumlah pengunjuk rasa tertinggi, jadi kita harus pintar (menekan potensi penularan virus)," ujarnya.

Kota yang dijuluki 'Big Apple' ini akan membuka kembali aktivitas bisnis pada Senin (8/6). Aktivitas belajar di sekolah masih belum dibuka, namun prosesi kelulusan siswa akan dilakukan dengan cara drive-in dan drive-through.

[Gambas:Video CNN]

Dalam beberapa pekan ke depan, New York akan melakukan fase kedua pelonggaran lockdown dengan mengizinkan pengunjung restoran untuk makan di tempat dan warga dibolehkan menghabiskan waktu di taman.

Aksi protes kematian Floyd di New York terus berlanjut meskipun ada peraturan pemerintah yang melarang adanya pertemuan lebih dari 10 orang. Selain di New York, aksi serupa juga masih berlanjut di negara bagian AS lainnya.

Hasil autopsi terbaru mengungkap Floyd meninggal karena henti jantung setelah lehernya dikunci oleh polisi kulit putih Minnesota pada 25 Mei lalu. Hasil swab juga menunjukkan ia positif terpapar virus corona.

"Hasil tes swab post-mortem ditemukan positif untuk 2019-nCoV RNA," tulis laporan hasil autopsi yang dirilis Kamis (4/6).

Kepala Pemeriksa Medis Andrew Baker mengatakan hasil tersebut menyatakan bahwa itu merupakan positif yang bertahan lama dari infeksi sebelumnya. Floyd diduga terkena virus corona tanpa gejala. Baker juga menegaskan bahwa virus corona bukanlah penyebab kematian Floyd. (AFP/evn)