Ribuan Warga Israel Demo Rencana Pencaplokan Tepi Barat

CNN Indonesia | Minggu, 07/06/2020 06:01 WIB
Israelis wearing protective masks lift placards as they take part in a demonstration on April 25, 2020, in Rabin Square in the coastal city of Tel Aviv, to protest what they consider threats to Israeli democracy, against the backdrop of negotiations between Prime Minister Benjamin Netanyahu and his ex-rival Benny Gantz. - The protesters stood two meters apart from each other, thereby respecting the social distancing measures in force to fight the COVID-19 pandemic. (Photo by JACK GUEZ / AFP) Ilustrasi demo di Israel. (AFP/JACK GUEZ)
Jakarta, CNN Indonesia -- Ribuan warga Israel berunjuk rasa di Tel Aviv, pada Sabtu (6/6) malam, menentang rencana pemerintahnya untuk mencaplok sebagian Tepi Barat, Palestina.

Dikutip dari AFP, demonstran dari kalangan LSM dan partai-partai politik sayap kiri Israel tampak mengibarkan bendera Israel dan Palestina sambil memegang spanduk berisi penentangan terhadap pendudukan Tepi Barat dan kemungkinan aneksasi atau pencaplokan wilayah itu.

"Kita, rakyat Palestina dan Yahudi, telah melakukan begitu banyak kerusakan satu sama lain," kata Anat Schrieber, seorang peserta demo, kepada AFP.


"Kita bersaudara, kita berada di sini, kita berdua, kita bisa melakukan lebih banyak hal bersama daripada secara terpisah," lanjutnya.

Peserta aksi lainnya, Eden, menyerukan "keadilan bagi Palestina dan perdamaian bagi Israel dan Palestina."

"Dalam realitas apartheid tidak akan ada kedamaian bagi kita atau mereka, juga tidak ada keadilan," cetusnya.

Infografis Garis Waktu Konflik Israel-PalestinaFoto: Astari Kusumawardhani
Menurutnya, pencaplokan wilayah akan melanggar hukum internasional dan kemungkinan memicu ketegangan baru di wilayah yang bergejolak itu.

"Saya takut dengan rencana aneksasi," kata Eden. "Saya pikir itu akan menyebabkan kerusuhan dan bahkan perang."

Rencana itu, lanjut Eden, "tidak akan mencapai apa-apa, tidak memiliki kaitan dengan perdamaian".

Diketahui, Presiden AS Donald Trump, pada awal tahun ini, memberi lampu hijau kepada Israel untuk mencaplok permukiman Yahudi dan wilayah strategis lainnya di Tepi Barat.

Sebagai bagian dari perjanjian untuk membentuk pemerintahan koalisi dengan pemimpin Partai Biru dan Putih Benny Gantz, Perdana Menteri Benjamin Netanyahu dapat menyerahkan rencana Trump itu ke kabinetnya dan parlemen paling cepat 1 Juli.

Rencana itu juga mewacankan pembentukan negara Palestina, tetapi dengan luas wilayah yang dikurangi dan tanpa memenuhi permintaan utama Palestina untuk memiliki ibu kota di Yerusalem timur. Palestina sendiri langsung menolak rencana itu.

(AFP/arh)

[Gambas:Video CNN]