Ditanya Apa Rencana jika Terpilih Lagi, Trump Tak Bisa Jawab

CNN Indonesia | Senin, 29/06/2020 14:54 WIB
President Donald Trump speaks during a campaign rally at the BOK Center, Saturday, June 20, 2020, in Tulsa, Okla. (AP Photo/Evan Vucci) Presiden Donald Trump tak bisa menjawab secara jelas saat ditanya targetnya jika kembali terpilih menjadi presiden AS untuk periode kedua. (AP/Evan Vucci)
Jakarta, CNN Indonesia --

Presiden Donald Trump tak bisa menjawab secara jelas saat ditanya targetnya jika kembali terpilih menjadi presiden Amerika Serikat untuk periode kedua dalam pemilu November mendatang.

Dalam wawancara bersama Fox News, Trump malah membesar-besarkan soal bakat dan pengalaman saat ditanya visi misinya jika kembali dapat memimpin Negeri Paman Sam ke depan.

Pembawa acara Sean Hannity menanyakan kepada Trump hal-hal utama apa yang menjadi prioritasnya jika nanti terpilih lagi sebagai presiden.


"Salah satu hal yang akan sangat bagus-dunia pengalaman masih sangat bagus dan penting, saya selalu mengatakan bakat itu lebih penting dari pengalaman, saya selalu mengatakan itu-tapi dunia pengalaman adalah kata yang sangat penting dan memiliki arti yang sangat penting," jawab Trump seperti dikutip CNN.

Alih-alih menjelaskan visi misi dan agenda prioritasnya jika terpilih sebagai presiden lagi, Trump malah bercuap-cuap soal kehidupannya sebagai pengembang asal New York. Ia menuturkan sebelum menjadi presiden, dia jarang mengunjungi Washington dan tidak mengenal siapa-siapa.

"Sekarang, saya kenal semua orang, dan saya memiliki orang-orang hebat di pemerintahan," kata Trump.

Infografis Para Kandidat Pilpres AS 2020Foto: CNN Indonesia/Timothy Loen. Infografis Para Kandidat Pilpres AS 2020

Trump juga turut menyinggung mantan penasihat keamanannya, John Bolton, yang baru-baru ini merilis buku yang tidak sedikit mengungkap kebobrokan pemerintahannya.

"Anda membuat sejumlah kesalahan, seperti si idiot John Bolton, semua yang ia inginkan hanya menjatuhkan bom kepada semua orang, Anda tidak perlu menjatuhkan bom ke semua orang, Anda tidak perlu membunuh orang-orang," ujar Trump.

Jawaban Trump tersebut menggambarkan ketakutan beberapa penasihat politiknya selama ini yang menganggap sang presiden tidak fokus terhadap pemilihan presiden yang akan diselenggarakan sekitar lima bulan lagi.

Tim kampanye Trump berharap sang presiden bisa segera mulai memanfaatkan platform dan keunggulannya sebagai petahana untuk menyaingi rivalnya dari Partai Demokrat, Joe Biden, yang semakin unggul di depan dalam survei pemilu sejauh ini.

Berdasarkan jajak pendapat pilpres yang digagas New York Times pada pekan lalu, Biden unggul 14 poin dari Trump. Biden meraih 50 persen suara, sementara Trump hanya mendapat 36 persen dukungan. Jumlah ini menjadi yang terburuk bagi Trump sejauh ini.

Survei mengatakan keunggulan Biden terjadi karena mantan wakil presiden AS era Barack Obama itu dinilai berhasil membangun kepercayaan di kalangan pemilih perempuan, pemilih keturunan Afrika Amerika dan Latin.

Sementara itu, New York Times menuturkan Trump kehilangan suara dari para pendukungnya yang menganggap pemerintahannya gagal menangani pandemi virus corona (Covid-19) yang masih melonjak signifikan di Negeri Paman Sam.

Selain pandemi, respons Trump dalam meredam unjuk rasa besar-besaran di AS atas isu rasisme dan kebrutalan polisi terhadap kaum minoritas juga turut membuat citranya di depan para pendukung meredup.

(rds/dea)

[Gambas:Video CNN]