Taliban Kembali Ungkap Komitmen dengan AS untuk Tarik Pasukan

CNN Indonesia | Rabu, 01/07/2020 01:08 WIB
Mohammad Nabi Omari (C-L), a Taliban member formerly held by the US at Guantanamo Bay and reportedly released in 2014 in a prisoner exchange, Taliban negotiator Abbas Stanikzai (C-R), and former Taliban intelligence deputy Mawlawi Abdul Haq Wasiq (R) walk with another Taliban member during the second day of the Intra Afghan Dialogue talks in the Qatari capital Doha on July 8, 2019. - Dozens of powerful Afghans met with a Taliban delegation on July 8, amid separate talks between the US and the insurgents seeking to end 18 years of war. The separate intra-Afghan talks are attended by around 60 delegates, including political figures, women and other Afghan stakeholders. (Photo by KARIM JAAFAR / AFP) Delegasi kelompok Taliban. (Foto: KARIM JAAFAR / AFP)
Jakarta, CNN Indonesia --

Kelompok Taliban kembali menegaskan komitmen pada kesepakatan dengan Amerika Serikat untuk menarik pasukan di Afghanistan. Juru bicara Taliban Suhail Shaheen menyatakan pernyataan tersebut saat melakukan panggilan telepon dengan Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo.

Kepala Taliban, Mullah Abdul Fhani Baradar menegaskan kembali komitmen mereka untuk tidak menyerang pasukan Amerika Serikat.

"Menurut perjanjian itu, kami tidak mengizinkan siapa pun menggunakan tanah Afghanistan untuk melawan AS dan negara-negara lain," tulis Shaheen dalam cuitannya di Twitter, Senin (29/6).


Shaheen mengatakan dalam pembicaraan tersebut Baradar dan Pompeo membahas kelanjutan kesepakatan, termasuk yang terkait dengan intra-Afghanistan dan rencana pembebasan 5.000 gerilyawan yang ditahan.

"Kami berkomitmen untuk memulai pembicaraan intra-Afghanistan," ujar Shaheen menirukan ucapan Baradar kepada Pompeo.

Pemerintah Afghanistan mengatakan pihaknya sejauh ini telah membebaskan hampir 4.000 tahanan Taliban dalam upaya memulai perundingan.

Pompeo mengakui jika Taliban telah menahan diri untuk tidak menyerang pusat kota dan pangkalan militer di bawah kesepakatan yang terjadi pada akhir Januari lalu. Shaheen mengatakan AS meminta Taliban melakukan upaya lebih untuk mengurangi kekerasan di Afghanistan.

Diskusi terkait kelanjutan kesepakatan antara Taliban dan AS dilakukan setelah muncul laporan yang menyebut Presiden Donald Trump telah menerima pengarahan intelijen terkait peran Rusia di Afghanistan.

Laporan yang diberitakan The New York Times tersebut menyebutkan bahwa Rusia menawarkan hadiah kepada militan yang terkoneksi dengan Taliban, bila mereka berhasil membunuh prajurit Amerika Serikat di Afghanistan.

Hadiah tersebut konon berupa insentif kepada militan untuk menargetkan prajurit Amerika Serikat, bersamaan dengan upaya Trump menarik tentara dari negara tersebut dan mengakhiri perang terpanjang Amerika. Keinginan Trump itu sendiri sama seperti salah satu tuntutan utama para militan di Afghanistan.

Surat kabar tersebut, mengutip sumber resmi namun anonim, mengatakan bahwa Trump diberi tahu terkait temuan intelijen pada Maret tersebut, namun Presiden AS itu belum memberikan keputusan apa pun.

Seperti halnya Trump, Taliban juga membantah kabar yang menyebut jika mereka menerima hadiah dari Rusia.

(AFP/evn)

[Gambas:Video CNN]