Raja Belgia Sesalkan Penjajahan Kongo, Namun Tidak Minta Maaf

CNN Indonesia | Rabu, 01/07/2020 10:59 WIB
King Philippe of Belgium speaks during the opening session of the 72nd High-level Meeting on Peacebuilding and Sustaining Peace at United Nations Headquarters in New York, on April 24, 2018. (Photo by HECTOR RETAMAL / AFP) Raja Belgia, Philippe. Philippe, menyatakan penyesalan atas kekejaman yang dilakukan pendahulunya, Leopold II, saat menjajah Kongo antara 1885 sampai 1908. (AFP/HECTOR RETAMAL)
Jakarta, CNN Indonesia --

Raja Belgia, Philippe, menyampaikan penyesalan mendalam kepada Presiden Kongo, Felix Tshisekedi, atas kekejaman yang dilakukan pendahulunya selama masa penjajahan.

Seperti dilansir Associated Press, Rabut (1/7), pernyataan Philippe kepada Tshisekedi disampaikan melalui sepucuk surat. Di dalamnya tercantum penyesalan mendalam secara formal oleh Philippe, atas kekerasan dan kekejaman yang mengakibatkan penderitaan dan mempermalukan bangsa Kongo saat dijajah Kerajaan Belgia.


"Pada saat Kongo menjadi negara yang merdeka, sikap kekerasan dan kekejaman yang terjadi di masa lampau masih membebani ingatan kami," tulis Philippe.

"Masa penjajahan juga menyebabkan penderitaan dan rasa malu. Saya ingin menyampaikan penyesalan yang paling dalam atas masa lalu yang penuh luka tersebut, dan rasa sakit yang kembali ditimbulkan oleh diskriminasi yang terjadi di tengah kita saat ini," lanjut Philippe.

Philippe menyampaikan permohonan maaf tidak bisa hadir di peringatan kemerdekaan Kongo karena pandemi virus corona.

Langkah Philippe ini merupakan langkah penting terkait sejarah kolonial Belgia dan momen langka oleh anggota kerajaan, meski tidak secara resmi memberikan pernyataan permintaan maaf. 


Secara terpisah, Perdana Menteri Belgia, Sophie Wilmes, mendesak negara itu menggelar debat terbuka nasional secara mendalam untuk membahas persoalan kekejaman kerajaan Belgia saat menjajah Kongo.

"Pada 2020, kita harus bisa melihat kembali masa lalu secara jernih dan tegas. Pekerjaan kebenaran dan ingatan dimulai dengan pengakuan akan penderitaan. Mengakui penderitaan yang lain," ujar Wilmes.


Kongo dijajah Belgia pada masa kepemimpinan Raja Leopold II pada 1885 sampai 1908. Saat itu, Leopold II dikenal kejam dan tidak segan menghabisi para penduduk Kongo yang menentang peraturan.

Selain itu, penduduk Kongo sangat menderita akibat kerja paksa dan bentuk kekejaman lain di masa penjajahan oleh Leopold II. Menurut perhitungan ahli, sekitar 10 juta penduduk Kongo meninggal saat masa kolonial.

Setelah masa penjajahan Leopold II di Kongo berakhir pada 1908, dia menyerahkan wilayah itu kepada pemerintah Belgia yang memerintah hingga 75 tahun kemudian sampai Kongo merdeka pada 1960.

[Gambas:Video CNN]

Dalam gelombang aksi antirasialisme, sejumlah demonstran di Antwerp, Belgia ,merusak patung Leopold II. Tidak lama setelah surat Philippe dipublikasikan, pemerintah kota Ghent memutuskan memindahkan patung itu ke gudang museum.

Demonstrasi itu dipicu aksi di Amerika Serikat akibat kematian seorang pria kulit hitam, George Floyd, yang mengalami kekerasan polisi ketika ditangkap karena dilaporkan membeli rokok dengan uang palsu.

Aktivis Blak Lives Matter Belgia, Joelle Sandi, mengatakan kepada CNN mengatakan pernyataan Philippe itu tidak cukup.

"Kami ingin permintaan maaf, yang sebenarnya. Bukan [pernyataan] yang membuat kami harus menduga-duga apa maksud yang sebenarnya," ujar Sandi.

Catatan redaksi: Judul artikel ini diubah dari yang sebelumnya: "Raja Belgia Minta Maaf Atas Kekejaman saat Penjajahan Kongo" karena kesalahan redaksi.

(Associated Press/ayp)