Trump Sindir Demo Black Lives Matter, Bela Monumen Rasialis

CNN Indonesia | Sabtu, 04/07/2020 23:40 WIB
EDS NOTE: OBSCENITY - President Donald Trump walks from the White House through Lafayette Park to visit St. John's Church Monday, June 1, 2020, in Washington. (AP Photo/Patrick Semansky) Presiden Trump mengkritik demo 'Black Lives Matter' dalam malam peringatan 4 Juli. (Foto: AP/Patrick Semansky)
Jakarta, CNN Indonesia --

Presiden AS Donald Trump menuding aksi unjuk rasa Black Lives Matter sebagai "kekerasan yang kejam" karena hendak menyingkirkan sejumlah simbol rasialisme.

Hal itu dikatakannya saat mengunjungi Monumen Nasional Gunung Rushmore, Dakota Selatan, AS, untuk menghadiri pesta kembang api perayaan Hari Kemerdekaan Amerika Serikat yang jatuh pada 4 Juli.

Di Monumen Nasional Gunung Rushmore, Black Hills, itu terpahat patung wajah empat presiden AS, yakni George Washington, Thomas Jefferson, Theodore Roosevelt, dan Abraham Lincoln.


Saat perayaan malam 4 Juli itu, dikutip dari AFP, ribuan orang penuh sesak datang ke lokasi. Sebagian dari massa meneriakkan "empat tahun lagi", merujuk pada masa jabatan kepresidenan. Hanya beberapa di antaranya mengenakan masker. Tak ada jaga jarak.

Saat berbicara di hadapan para pendukungnya itu, Presiden Trump meminta mereka untuk membela "integritas" Amerika. Dia menuding pengunjuk rasa 'black lives matter' menggelar "aksi tanpa belas kasihan untuk menghapus sejarah kita, mencemarkan nama baik pahlawan kita, menghapus nilai-nilai kita, dan mengindoktrinasi anak-anak kita."

"Kerusuhan yang kita saksikan di jalan-jalan dan kota-kota, adalah hasil yang dapat diprediksi dari indoktrinasi ekstrem dan bias dalam pendidikan, jurnalisme, dan lembaga budaya lainnya," kata Trump.

Sebelumnya, rangkaian aksi 'black lives matter' mengguncang semua negara bagian Amerika, dan juga di berbagai negara, sebagai respons atas kebrutalan polisi yang membuat nyawa George Floyd, seorang pria Afrika-Amerika, melayang, pada 25 Mei.

Dalam rangkaian aksi itu, massa mencoba merombak simbol-simbol Perang Saudara Amerika yang dianggap pro-perbudakan, memindahkan patung-patungnya.

Protesters throw a statue of slave trader Edward Colston into Bristol harbour, during a Black Lives Matter protest rally, in Bristol, England, Sunday June 7, 2020, in response to the recent killing of George Floyd by police officers in Minneapolis, USA, that has led to protests in many countries and across the US. (Ben Birchall/PA via AP)Para demonstran 'Black Lives Matter' di Bristol, Inggris, melempar patung pedagang budak Edward Colston, yang dianggap simbol rasialisme, ke sungai.  (Ben Birchall/PA via AP)

Trump pun berjanji tak akan merusak Gunung Rushmore, dan tidak akan pernah menghapuskan polisi atau haknya untuk membawa senjata.

"Mereka [demonstran] ingin membungkam kita, tetapi kita tidak akan dibungkam," cetusnya, disambut sorak-sorai pendukung.

Ia menambahkan bahwa sudah waktunya untuk "berbicara dengan keras, kuat, kencang, dan mempertahankan integritas negara kita."

"Yang terbaik belum tiba," kata Trump, sambil berjanji untuk mendirikan "taman di luar ruangan yang luas yang akan menampilkan patung-patung orang Amerika terhebat yang pernah ada".

Diketahui, monumen empat wajah Presiden AS di Black Hills itu dibangun pada 1927 dan selesai pada 1941. Black Hills sendiri merupakan tempat sakral bagi penduduk asli yang mencapai 60 suku.

Lahan di daerah ini diambil oleh pemerintah AS sejak temuan emas di wilayah ini pada 1870-an. 50 tahun kemudian, Mahkamah Agung AS menyebut penduduk Sioux belum menerima kompensasi atas pengambilan tanahnya.

"Masyarakat adat dan leluhur saya berjuang dan mati, dan menyerahkan nyawa mereka untuk melindungi tanah suci ini, dan meledakkan gunung dan menempatkan wajah empat pria kulit putih yang merupakan penjajah yang melakukan genosida terhadap penduduk asli," cetus Nick Tilsen, pendiri dan CEO NDN Collective, sebuah organisasi nirlaba yang mendukung masyarakat adat.

"Sebagai orang Amerika, menganggap itu bukan sebagai kemarahan mutlak adalah konyol," imbuhnya, kepada CNN.

Mount RushmoreMonumen Gunung Rushmore didirikan di atas tanah adat yang dirampas secara sistematis oleh negara dari suku asli. (Foto: skeeze/Pixabay)

Orang Dekat

Terkait penanganan Covid-19, Trump, dalam pidato itu, mengucapkan terima kasih kepada mereka yang "bekerja tanpa lelah untuk membunuh virus".

Per Jumat (3/7), AS mencapai rekor 57 ribu kasus infeksi baru. Jumlah korban meninggal sejauh ini nyaris mencapai 130 ribu orang. Hal ini, kata Anthony Fauci, epidemilog terkemuka, "menempatkan seluruh negara dalam bahaya".

Dalam kicauannya, pada Kamis (2/7), Trump berdalih bahwa kenaikan itu karena tes Covid-19 yang "sangat besar dan sangat baik". Ia pun menyebut itu sebagai berita bagus.

Namun demikian, para ahli kesehatan mengatakan dalih itu tk sepenuhnya bisa menjelaskan soal kenaikan kasus. Pasalnya, AS masih tertinggal dari negara lain dalam hal rata-rata jumlah tesnya. Mereka juga mencatat bahwa kematian cenderung meningkat beberapa pekan setelah kasus meningkat.

Sejumlah orang dekat dari pihak Istana juga dilaporkan sudah terjangkit Virus Corona. Wakil Presiden Mike Pence menunda perjalanan ke Arizona setelah beberapa anggota Paspampres-nya dilaporkan menunjukkan gejala Covid-19.

Pada Jumat, pacar Donald Trump Jr, Kimberly Guilfoyle, dinyatakan positif Covid-19. Dia merupakan orang ketiga yang positif yang melakukan kontak dekat dengan presiden.

Mantan presiden Barack Obama pada Jumat (3/7) pun menyindir kelompok pendukung Trump.

"Mari jaga keamananan diri dan tetap cerdas. Ini akan membuat kita semua mengalahkan virus tersebut. Jadi, pakailah masker. Cuci tanganmu. Dan dengarkan para ahli, bukan [mendengarkan] orang-orang yang berusaha memecah belah kita," ucapnya, dalam akun Twitter pribadinya.

(AFP/CNN/arh)

[Gambas:Video CNN]