Kematian Misterius Wali Kota Seoul, Kandidat Presiden Korsel

CNN Indonesia | Sabtu, 11/07/2020 11:37 WIB
(FILES) This file photo taken on May 26, 2014 shows Seoul mayor Park Won-Soon attending an interview with AFP in Seoul. - Seoul's outspoken mayor Park Won-soon, long seen as a potential South Korean presidential candidate, was found dead on July 10, 2020, police said. He was 64. A former Seoul City employee filed a police complaint -- allegedly involving sexual harassment -- against him on July 8. Park's body was found on a mountain in northern Seoul, police said, after a search by hundreds of officers. (Photo by Ed JONES / AFP) Wali Kota Seoul Park Won-Soon. (AFP/ED JONES)
Jakarta, CNN Indonesia --

Penemuan jasad Wali Kota Seoul Park Won-soon pada Jumat (10/7) mengejutkan publik Korea Selatan (Korsel). Penyebab kematian pejabat negara paling berpengaruh kedua di Korsel itu masih misterius, namun diduga lantaran bunuh diri.

Park pertama kali menjabat sebagai Wali Kota Seoul pada 2011, lalu kembali terpilih memimpin ibu kota pada 2014 dan 2018. Park merupakan kandidat terkuat calon presiden Korsel untuk menggantikan Presiden ke-12 Moon Jae-in yang akan habis masa jabatannya pada 2022.

Sebelum berpolitik dan menjadi Wali Kota Seoul, namanya dikenal sebagai pengacara sekaligus advokat hak asasi manusia ternama.


Ia bahkan mendapat penghargaan karena berhasil memenangkan sejumlah kasus besar kekerasan seksual, terutama kasus pelecehan seksual pertama dalam sejarah Korsel pada 1986.

Sayangnya, hal yang melambungkan namanya itu justru menjadi bumerang bagi karier dan hidupnya.

Park diduga tewas bunuh diri sehari setelah mantan sekretarisnya mengajukan pengaduan ke polisi atas pelecehan seksual yang dilakukannya.

Sebelum jasadnya ditemukan di Gunung Bugaksan pada Jumat dini hari, Park dilaporkan hilang oleh putrinya pada Kamis (9/7). Pada Kamis Park izin tidak bekerja dengan alasan tidak enak badan dan ia juga membatalkan sejumlah pertemuan dengan pejabat Korsel.

Park terlihat meninggalkan kantor sekitar pukul 10 pagi dengan mengenakan topi biru, masker putih, jumper, dan tas punggung bertuliskan "I Love Seoul".

Sang putri melapor ke polisi setelah Park sempat meneleponnya dan meninggalkan pesan-pesan 'yang terdengar seperti pesan perpisahan'.

Pihak kepolisian belum mengkonfirmasi penyebab kematian Park, namun jika dinyatakan karena bunuh diri dia merupakan pejabat tinggi Korsel kedua yang melakukannya. Sebelum Park, mantan Presiden Roh Moo-hyun tewas bunuh diri setelah melompat dari tebing pada 2009 usai terjerat dugaan korupsi.

Semasa menjabat sebagai Wali Kota Seoul, Park dipandang sebagai pemimpin yang energik dan berkepribadian.

Park lulus sarjana Hukum Internasional di London School of Economics, Ilmu Politik di Universitas London, dan menjadi peneliti di departemen HAM Fakultas Hukum Universitas Harvard.

Ketika muda Park juga aktif dalam kegiatan sosial dan penegakan HAM. Ia pernah dipenjara karena ikut berdemo mengkritik Presiden Park Chun-hee yang dianggap sebagai pemimpin diktator.

Park juga menjadi pendiri sejumlah organisasi, termasuk People's Solidarity for Participatory Democracy, kelompok yang mempromosikan demokrasi dan HAM di Korsel.

Kematian Park secara tiba-tiba ini memicu perpecahan di kalangan publik. Sebagian warga merasa kehilangan Park, sementara yang lainnya mengecam lantaran politikus partai berkuasa itu tidak bisa diadili atas dugaan yang menjeratnya.

(rds/fea)

[Gambas:Video CNN]