Skandal Pangeran Qatar Jadi Sarjana di AS Meski Jarang Kuliah

CNN Indonesia | Kamis, 23/07/2020 05:52 WIB
Pangeran Qatar, Khalifa Bin Hamad Bin Khalifa Al Thani, mendapat gelar sarjana dari kampus bergengsi AS meski tak pernah kuliah. Ilustrasi kegiatan perkuliahan. (Thinkstock/diego_cervo)
Jakarta, CNN Indonesia --

Seorang pangeran dari Qatar, Khalifa Bin Hamad Bin Khalifa Al Thani (28), dilaporkan terlibat skandal dalam bidang pendidikan dengan meraih gelar master dari Universitas Southern California (USC) di Amerika Serikat tetapi tidak pernah masuk kuliah.

Seperti dilansir Middle East Monitor yang mengutip laporan surat kabar Los Angeles Times, Rabu (22/7), hal itu terkuak setelah jurnalis setempat melakukan investigasi. Proses liputan itu berawal dari skandal yang terungkap di perguruan tinggi bergengsi itu, di mana keluarga kaya raya menyogok pihak kampus melalui perantara supaya anak mereka bisa kuliah di sana.

Menurut laporan Los Angeles Times, Khalifa meraih gelar sarjana strata satu di USC lima tahun lalu. Lalu dia juga berhasil meraih gelar master di bidang diplomasi publik.


Adik dari Amir Qatar, Tamim bin Hamad Al Thani, itu dilaporkan tidak pernah sekalipun masuk kelas untuk kuliah.

Khalifa dilaporkan beralasan tidak bisa masuk kelas seperti mahasiswa pada umumnya dengan dalih keamanan. Dia mengklaim mendapat perlakuan khusus untuk melakukan kuliah tingkat Strata 2 secara jarak jauh dari Eropa.

Keleluasaan dan perlakuan khusus itu tidak pernah diberikan kepada mahasiswa USC manapun.

Selama kuliah di AS, Khalifa dilaporkan hidup bermewah-mewahan. Dia 'indekost' di hotel bintang lima, Beverly Wilshire, bersama sejumlah stafnya.

Harga sewa kamar yang dia tempati dalam satu malam sebesar US$600 (sekitar Rp8,8 juta).

Selain itu, Khalifa juga dilaporkan gemar berjudi, kegiatan yang haram dilakukan di negaranya. Dia juga menjalani berfoya-foya dengan melakukan aktivitas terjun payung, melaut dengan kapal mewah dan membeli mobil-mobil sport mahal.

"Sejak Al Thani turun dari pesawat, seluruh perputaran uang dilakukan hanya untuk memenuhi keinginannya," demikian tulis laporan Los Angeles Times.

Selama kuliah, Khalifa didampingi oleh sederet staf mulai dari sopir, ajudan, pelatih kebugaran, asisten pribadi, perawat, serta sejumlah pegawai lain. Menurut pengakuan rekan kuliahnya, Khalifa bahkan memberdayakan sejumlah mahasiswa untuk mengurus seluruh urusan kuliah, seperti mencatat materi dari dosen, dan diberikan imbalan tertentu.

Dari pengakuan sejumlah orang dekatnya, Khalifa dilaporkan memberikan hadiah kepada siapapun yang bisa membantunya lulus dalam sebuah mata kuliah, meski harus melanggar aturan kampus karena tidak pernah masuk kelas. Salah satu yang mendapat imbalan dari Khalifa disebut-sebut adalah seorang profesor di kampus itu.

[Gambas:Video CNN]

Menanggapi hal itu, kuasa hukum Khalifa, David Keyko, membantah seluruh isi laporan Los Angeles Times.

"Penelitian Anda sejauh ini telah menimbulkan kecurigaan, anggapan dan berbagai tingkat desas-desus tentang hal-hal yang, jika terjadi sama sekali, terjadi bertahun-tahun yang lalu," tulis Keyko.

(Los Angeles Times, Middle East Monitor/ayp)
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK