Anwar Ibrahim Merasa Ditipu Mahathir soal Kursi PM Malaysia

CNN Indonesia | Senin, 27/07/2020 10:54 WIB
Presiden Partai Keadilan Rakyat Malaysia Anwar Ibrahim merasa ditipu oleh mantan Perdana Menteri Mahathir Mohamad yang pernah menjanjikannya jabatan PM. Presiden Partai Keadilan Rakyat (PKR) Malaysia Anwar Ibrahim. (CNN Indonesia/Riva Dessthania Suastha)
Jakarta, CNN Indonesia --

Presiden Partai Keadilan Rakyat (PKR) Malaysia Anwar Ibrahim merasa ditipu oleh mantan Perdana Menteri Mahathir Mohamad yang pernah menjanjikannya jabatan PM.

Dalam sebuah wawancara eksklusif dengan surat kabar lokal, Sin Chew Daily, Anwar mengatakan dia sempat percaya bahwa Mahathir akan menepati janji dengan mengalihkan jabatan perdana menteri kepadanya setelah dua tahun menjabat.

"Kami tidak tahu (Mahathir berbohong) sebelumnya tapi  sekarang kami tahu," kata Anwar.


Semasa menjabat sebagai PM usai menang pemilihan umum pada Mei 2018 lalu, Mahathir menjanjikan akan mengalihkan jabatan orang nomor satu di Malaysia itu kepada Anwar. 

Pengalihan jabatan PM itu merupakan bagian dari janji politik saat Anwar dan Mahathir saat membentuk koalisi Pakatan Harapan bersama untuk melawan koalisi berkuasa Barisan Nasional yang dipimpin eks PM Najib Razak di pemilu.

Namun, Mahathir tak pernah memberikan tenggat waktu jelas kapan pengalihan jabatan itu akan berlangsung sampai akhirnya politikus 95 tahun itu mengundurkan diri sebagai PM pada Februari lalu.

Mahathir tak memberitahu para pemimpin Pakatan Harapan, termasuk Anwar, sebelum memutuskan mengundurkan diri. Hal itu menyebabkan perpecahan pemerintah dan koalisi Pakatan Harapan.

Anwar mengaku sadar bahwa banyak pihak yang menentang dirinya menjadi perdana menteri.

"Banyak miliarder, termasuk orang Melayu kaya yang saya kenal. Saya juga tahu kalau mereka korup dan menentang saya. Mereka memainkan kartu rasial dengan mengatakan 'Anwar bukan orang Melayu dan dia tidak melindungi orang Melayu'," ujar Anwar seperti dikutip The Star.

Anwar menilai pengunduran diri Mahathir merupakan penyebab utama keruntuhan pemerintah yang dipimpin Pakatan Harapan yang baru terbentuk 22 bulan.

Ia menganggap jika Mahathir tak mengundurkan diri, Pakatan Harapan masih bisa berkuasa di pemerintahan. Menurut Anwar, masalah internal koalisi sebenarnya dapat diatasi tanpa harus mengorbankan prestasi koalisi di pemerintahan.

"Faktanya ada pengkhianat di PKR dan Partai Pribumi Bersatu Malaysia (partai Mahathir). Tapi apakah Anda pikir para pengkhianat itu menjamur hanya dalam satu pekan? Mereka pasti sudah merencanakan ini sejak lama. Pertanyaannya adalah mengapa kita memberiakan skenario ini terjadi?" kata Anwar.

"Beberapa orang lebih suka melihat kekacauan ini terjadi. Rekaman bukti pertemuan telah membuktikan hal itu," ujarnya.

Ia membantah bahwa pengunduran diri Mahathir sebagai PM disebabkan tekanan dari PKR. Anwar menilai bahwa desakan akar rumput PKR terhadap Mahathir untuk mundur bukan lah bentuk tekanan.

"Mengapa ada tekanan? Karena dia (Mahathir) sepertinya tidak mau pergi dari kursi PM. Satu tahun, dua tahun, tiga tahun, dan pemilu," kata Anwar.

Ia bahkan menyatakan tidak akan mendukung Mahathir untuk menjadi PM lagi.

(rds/dea)

[Gambas:Video CNN]