Sengketa LCS, Filipina Tak Sanggup Perang dengan China

The Star, CNN Indonesia | Selasa, 28/07/2020 18:45 WIB
Presiden Filipina, Rodrigo Duterte, mengatakan negaranya tak sanggup jika harus berperang dengan China dalam sengketa wilayah di Laut China Selatan. Presiden Filipina, Rodrigo Duterte. Dia mengatakan negaranya tak sanggup jika harus berperang dengan China dalam sengketa wilayah di Laut China Selatan. (Ted ALJIBE / AFP)
Jakarta, CNN Indonesia --

Presiden Filipina, Rodrigo Duterte, mengatakan negaranya tak sanggup jika harus berperang dengan China dalam sengketa wilayah di Laut China Selatan.

Dalam pidato tahunan negara, Duterte mengatakan ia tak punya pilihan selain menganggap sengketa di Laut China Selatan sebagai isu diplomatik karena di luar itu negaranya harus berperang dengan China.

Duterte membela keputusan pemerintahannya untuk tidak meneken keputusan pengadilan arbitrase 2016 yang mendukung tuntutan FIlipina terhadap China.


Putusan arbitrase itu mementahkan seluruh klaim historis China di Laut China Selatan, termasuk wilayah yang diperebutkan Beijing dan Manila.

Menurut Duterte saat ini negaranya tidak memiliki kemampuan untuk menentang China secara militer.

"Kita tidak bisa berperang," kata Duterte menambahkan seperti dikutip The Star pada Selasa (28/7).

Hal itu diutarakan Duterte di saat ketegangan di Laut China Selatan terus memanas belakangan, terutama antara China dan Amerika Serikat yang saling mengerahkan armada militernya untuk memperkuat pengaruh di perairan itu.

Belakangan, China terus memperkuat klaim historis atas hampir 90 persen wilayah Laut China Selatan dengan mengerahkan kapal-kapal ikan dan patrolinya ke perairan kaya sumber daya alam itu.

Agresivitas China di Laut China Selatan baru-baru ini bahkan sempat memicu friksi antara Vietnam, Malaysia, hingga Indonesia pada awal tahun ini ketika kapal ikan dan kapal patroli Tiongkok menerobos ZEE Indonesia di dekat Natuna.

Meski bukan negara yang bersengketa di Laut China Selatan, AS menentang klaim Negeri Tirai Bambu atas perairan itu. Washington menganggap Laut China Selatan sebagai perairan internasional yang bebas di lewati semua pihak.

Sementara itu, menurut Duterte ada hal yang jauh lebih prioritas bagi pemerintahannya saat ini yaitu menangani penularan pandemi virus corona (Covid-19) yang masih melonjak di Filipina, ketimbang harus berkonflik dengan negara lain.

Kementerian Kesehatan Filipina melaporkan jumlah kasus Covid-19 menjadi 82.040. Angka itu bertambah setelah pihak berwenang mendeteksi 1.667 kasus dalam sehari pada Senin (27/7).

Sementara itu, angka kematian corona di Filipina juga meningkat menjadi 1.945 pasien. Meski begitu, jumlah pasien corona yang pulih juga turut melonjak yakni menjadi 26.446 orang.

[Gambas:Video CNN]

Dalam kesempatan yang sama, Duterte menuturkan Filipina telah memiliki 93 laboratorium pengujian terakreditasi secara nasional demi mempercepat pemeriksaan corona.

Ia berharap puluhan laboratorium itu bisa membantu target pemerintah untuk melakukan 1,4 juta tes sampai akhir Juli ini.

(rds/ayp)

[Gambas:Video CNN]