Korban Ledakan Bertambah, Penduduk Beirut Demo Pemerintah

CNN Indonesia | Jumat, 07/08/2020 08:18 WIB
Korban meninggal akibat ledakan di gudang pelabuhan Beirut, Libanon, yang menyimpan 2.750 ton amonium nitrat bertambah menjadi 137 orang. Penduduk Beirut, Libanon, menemui Presiden Presiden Prancis, Emmanuel Macron, saat mengunjungi lokasi terdampak ledakan. (AP/Thibault Camus)
Jakarta, CNN Indonesia --

Korban meninggal akibat ledakan di gudang pelabuhan Beirut, Libanon, yang menyimpan 2.750 ton amonium nitrat bertambah menjadi 137 orang, dan menyulut amarah penduduk untuk melakukan unjuk rasa yang berakhir dengan bentrokan.

Penduduk Libanon yang marah lantas menggelar unjuk rasa di pusat kota Beirut, dan sempat terlibat bentrok dengan aparat kepolisian di jalan menuju kompleks gedung pemerintahan.

Para pengunjuk rasa melempari polisi dengan batu, membakar ban dan mencemooh para elite politik. Polisi memukul mundur dan membubarkan para demonstran menggunakan gas air mata.


Sebelum insiden itu terjadi, sejumlah warga Beirut menemui Presiden Prancis, Emmanuel Macron, yang mendatangi lokasi kejadian. Macron berkunjung ke kawasan Gemmayzeh, salah satu daerah yang paling parah terdampak ledakan.

Di tengah kunjungannya, penduduk Beirut menumpahkan seluruh keluh kesah mereka terkait ledakan, krisis ekonomi dan politik dan pandemi virus corona (Covid-19) yang menjerat Libanon.

Di hadapan para penduduk yang emosi, Macron menyatakan akan memberi bantuan kepada Libanon. Dia berencana menggelar konferensi dengan negara Eropa, Amerika Serikat, Timur Tengah dan lainnya untuk menggalang bantuan makanan, obat-obatan, rumah dan hal-hal mendesak lainnya.

Akan tetapi, Macron menyatakan akan mendesak pemerintah Libanon bersikap terbuka jika menerima bantuan. Dia menyatakan enggan memberikan bantuan cuma-cuma tanpa bisa mempercayai hal itu tidak akan disalahgunakan.

Macron juga mendesak pemerintah Libanon supaya menyerahkan bantuan itu langsung kepada penduduk yang membutuhkan. Dia juga menjanjikan akan membuat kesepakatan politik dengan rezim pemerintah Libanon saat ini.

Saat melihat-lihat dampak ledakan, sejumlah penduduk meneriakkan slogan "Revolusi" dan "Rezim Harus Lengser". Libanon merupakan bekas wilayah jajahan Prancis.

"Saya akan kembali pada awal September dan jika mereka (pemerintah Libanon) tidak bisa melakukannya, maka saya akan menepati janji tanggung jawab kepada kalian," ujar Macron.

Selain itu, Macron berjanji bantuan untuk Libanon tidak akan jatuh ke tangan pihak-pihak yang korup.

Pernyataan Macron langsung ditanggapi penduduk.

"Anda duduk dengan para panglima perang. Mereka sudah membohongi kami bertahun-tahun," kata seorang perempuan.

Macron lantas menjawab, "Saya ada di sini bukan untuk membantu mereka. Saya di sini untuk membantu kalian".

Sampai saat ini belum ada satupun elite politik Libanon, kecuali Presiden Michel Aoun, yang mengunjungi lokasi ledakan. Menteri Hukum Libanon, Marie-Claude Najm, sempat mencoba mendatangi kawasan Gemmayzeh usai Macron pergi, tetapi dia tidak bisa masuk karena dihalangi dan diusir oleh penduduk.

Infografis Fakta di Balik Ledakan Besar di Libanon

Kementerian Kesehatan Libanon menyatakan 5.000 orang luka-luka akibat kejadian itu.

Ledakan itu diduga dipicu oleh kebakaran di gudang pelabuhan Beirut yang menyimpan 2.750 ton senyawa amonium nitrat. Senyawa kimia itu memiliki daya ledak tinggi dan kerap dipakai untuk bahan baku pembuatan pupuk dan peledak.

Gubernur Beirut, Marwan Abboud, menyatakan jumlah kerugian akibat ledakan ditaksir mencapai Rp217.5 triliun. Sebanyak 300 ribu penduduk Beirut kehilangan tempat tinggal akibat rusak terkena dampak ledakan.

Aoun menyatakan berjanji akan menggelar penyelidikan terkait ledakan itu secara terbuka.

(Associated Press/ayp)

[Gambas:Video CNN]