Kamala Harris, 'Obama Kedua' di Pemilu AS Pendamping Biden

CNN, CNN Indonesia | Rabu, 12/08/2020 08:07 WIB
Kamala Harris memulai karier sebagai pengacara sebelum memasuki dunia politik dan dipilih sebagai cawapres oleh kandidat presiden Joe Biden. Kamala Devi Harris akan menjadi cawapres mendampingi Joe Biden dalam Pilpres AS. (Foto: AFP/ROBYN BECK)
Jakarta, CNN Indonesia --

Kamala Harris mencuri perhatian setelah kandidat presiden Amerika SerikatJoe Biden mengumumkan kabar penunjukan dirinya sebagai calon wakil presiden kulit hitam pertama. Biden dan Harris akan maju sebagai kandidat dari Partai Demokrat dalam pemilu November mendatang.

Biden menjatuhkan pilihan pada Harris dari empat perempuan kulit hitam yang sempat menjadi pertimbangannya. Sumber terdekat mengatakan tiga politikus perempuan yang sempat menjadi pertimbangkan Biden yakni Senator Tammy Duckworth, Gubernur New Mexico Michelle Lujan Grisham, dan Val Demings.

Pada 21 Juli lalu, Biden membocorkan bahwa empat dari kandidat yang tengah ia pertimbangkan sebagai pendampingnya merupakan perempuan kulit hitam.


"Saya tidak berkomitmen untuk menyebutkan salah satu (dari calon potensial), tetapi nama-nama yang saya sebutkan, dan diantara mereka ada empat perempuan kulit hitam," kata Biden dalam wawancara dengan MSNBC di program The ReidOut.

Penunjukan Harris sebagai cawapres dalam pemilu akan menjadi sejarah bagi Negeri Paman Sam. Ia menjadi perempuan Amerika kulit hitam keturunan imigran Jamaika-India pertama yang akan maju mengisi jabatan di skala nasional oleh partai politik besar.

Harris menjadi perempuan ketiga dalam sejarah AS yang dipilih mendampingi calon presiden. Sebelumnya ada politikus Partai Demokrat Geraldine Ferraro pada 1984 dan Sarah Palin dari Partai Republik pada 2008 lalu.

Mengutip CNN, seperti halnya Barack Obama yang lahir dari ras campuran, Kamala Devi Harris juga terlahir sebagai anak keturunan imigran Jamaika-India. Ibunya, Shyamala Gopalan merupakan kelahiran Chennai, India yang menjadi imigran AS untuk melanjutkan program doktoral di UC Berkeley.

Memiliki ras campuran membuat Harris terhubung dengan identitas yang berbeda dan menjangkau banyak audiens dan blok pemungutan suara.

Setelah kedua orang tuanya bercerai, Harris dan adiknya Maya ikut ibunya pindah ke Kanada. Gopalan bekerja sebagai staf pengajar di McGill Univesity dan melanjutkan risetnya mengenai kanker payudara di RS Umum Jewish di Montreal.

Harris memiliki hubungan yang dekat dengan ibunya. Dalam berbagai kesempatan ia kerap memuji kemampuan sang ibu sebagai orang tua tunggal membesarkan kedua anaknya.

"Ibuku, dia membesarkan adikku Maya dan aku, dan dia tangguh," kata Harris tentang ibunya dalam sebuah wawancara.

Harris melanjutkan studinya di Howard University, Washington DC dan bergabung dengan Alpha Kappa Alpha Sorority, organisasi perkumpulan Yunani Afrika-Amerika.

Setelah lulus dari Howard, Harris melanjutkan studi hukum di University of California Hastings College. Ia kemudian memulai kariernya sebagai jaksa penuntut di California Utara.

Tak dinyana, kariernya di bidang hukum justru membawanya lebih jauh ke dunia politik.

Perempuan berusia 55 tahun ini memulai kariernya di dunia politik sebagai senator junior untuk California pada 2017. Ia sebelumnya menjalani karier di bidang hukum sebagai pengacara hingga dipilih menjadi jaksa agung California ke-32 dari 2011 hingga 2017 dan sempat menjadi jaksa distrik San Fransisco.

Harris menjadi perempuan pertama dan perempuan kulit hitam pertama yang menjabat sebagai aparat penegak hukum tertinggi di negara bagian. Tak hanya itu, ia juga menjadi perempuan kulit hitam pertama dari California yang bertugas di Senat AS dan kedua setelah Carol Moseley Braun dari Illinois.

Jika nantinya berhasil memenangkan pilpres melawan Trump, Harris akan menjadi perempuan pertama yang menduduki jabatan sebagai wakil presiden Amerika Serikat.

(evn/evn)

[Gambas:Video CNN]