Ubah Sistem, Presiden Libanon Usulkan Jadi Negara Sekuler

CNN Indonesia | Senin, 31/08/2020 03:39 WIB
Presiden Libanon Michel Aoun mengampanyekan negara sekuler sebagai ganti sistem pembagian kekuasaan sektarian dan untuk menciptakan persatuan. Presiden Libanon Michel Aoun menyerukan perubahan sistem jadi negara sekuler akibat konflik sektarian yang terus terjadi. (Foto: AFP/JOSEPH EID)
Jakarta, CNN Indonesia --

Presiden Libanon Michel Aoun menyebut pentingnya mengubah sistem di negaranya sebagai bagian dari agenda reformasi. Ia pun mengusulkan proklamasi negaranya sebagai negara sekuler serta dialog untuk amendemen konstitusi.

"Saya menyerukan proklamasi Libanon sebagai negara sekuler," kata Aoun, dalam pidato menyambut peringatan 100 tahun negara Libanon, dikutip dari AFP, Senin (31/8).

Diketahui, Libanon sempat diguncang ledakan besar di pelabuhan Beirut. Ini dipicu oleh tumpukan amonium nitrat dalam jumlah besar yang dibiarkan tersimpan bertahun-tahun di gudang di pelabuhan.


Insiden ini memaksa pemerintah mengundurkan diri pada 10 Agustus. Sejumlah negara, termasuk AS dan Prancis, pun mendesak perubahan politik di Libanon.

Aoun mengatakan sistem negara sekuler adalah satu-satunya cara "untuk melindungi dan melestarikan pluralisme" serta menciptakan persatuan yang nyata.

"Pemuda Libanon menyerukan perubahan, untuk mereka, dan untuk masa depan mereka," kata presiden berusia 85 tahun itu, yang sejak lama dituding tak mendengarkan kaum muda.

"Saya katakan, ya, waktunya telah tiba," kata dia, "Ada kebutuhan untuk mengembangkan, memodifikasi, mengubah sistem. Sebut saja sesuka Anda, tetapi Libanon pasti perlu menjalankan urusannya dengan cara baru".

Aoun mengaku akan menyerukan dialog termasuk dengan otoritas agama dan pemimpin politik untuk mencapai "formula yang diterima oleh semua orang dan yang akan diwujudkan dalam amandemen konstitusi yang layak".

Infografis Fakta di Balik Ledakan Besar di LibanonFoto: CNN Indonesia/Fajrian

Dia akan menerima perwakilan dari blok parlemen dan anggota parlemen independen pada Senin (31/8) untuk memulai konsultasi menuju penunjukan perdana menteri baru setelah pemerintah mengundurkan diri menyusul ledakan Beirut.

Diketahui, model pemerintahan Lebanon saat ini adalah persetujuan Taef tahun 1989 yang mengakhiri perang saudara 1975-1990. Sistem politiknya disebut sebagai konfesionalisme, yakni pembagian kekuasaan antara aliran-aliran agama yang berbeda.

Mereka mengakui 18 sekte agama resmi dan 128 kursi parlemennya pun dibagi rata antara Muslim dan Kristen. Negara inipun tak pernah sepi dari pergolakan politik berbasis sektarian.

Sementara, sistem sekuler sendiri berlandaskan pada konsep pemisahan agama dari politik dan sistem kenegaraan. 

Terpisah, Presiden Prancis Emmanuel Macron disebut akan mendarat di Lebanon pada Senin (31/8). Ini menjadi kunjungan keduanya dalam beberapa minggu terakhir. Tujuannya, untuk menegaskan perlunya reformasi setelah ledakan beirut yang menewaskan sedikitnya 188 orang dan melukai ribuan lainnya.

Macron, pada Jumat (28/8), sempat berbicara soal "kendala sistem konfesional" dalam politik yang menghambat reformasi.

Menjelang kembalinya Macron ke Lebanon, Hassan Nasrallah, pemimpin Hizbullah, yang juga sekutu dekat Aoun, mengatakan gerakan Syiahnya "terbuka" terhadap proposal Prancis soal pakta politik baru untuk Lebanon selama ada konsensus nasional.

"Pada kunjungan terakhirnya ke Lebanon, kami mendengar seruan dari Presiden Prancis untuk pakta politik baru di Lebanon. Hari ini kami terbuka untuk diskusi konstruktif dalam hal ini," kata dia.

Infografis mengenai konflik antara dua ideologi Islam di Libanon.Foto: Astari Kusumawardhani

"Tapi kami punya satu syarat: diskusi ini harus dilakukan dengan kemauan dan persetujuan dari berbagai faksi Lebanon," imbuh dia, beberapa jam sebelum pidato Aoun.

Nasrallah tidak mengatakan perubahan apa yang ingin dipertimbangkan oleh Hizbullah.

(AFP/arh)

[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK