Netanyahu: Damai dengan Arab Dorong Jutaan Dolar Masuk Israel

CNN Indonesia | Rabu, 16/09/2020 10:30 WIB
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengatakan kesepakatan damai dengan Uni Emirat Arab dan Bahrain akan mendorong jutaan dolar masuk ke kantong negara. Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu. (AP/Ariel Schalit)
Jakarta, CNN Indonesia --

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengatakan kesepakatan damai dengan Uni Emirat Arab dan Bahrain akan mendorong jutaan dolar masuk ke kantong negara.

Hal tersebut diungkapkan Netanyahu sebelum berangkat menuju Gedung Putih, Washington, Amerika Serikat untuk menandatangani perjanjian normalisasi hubungan dengan dua negara Arab itu.

"Kesepakatan itu akan memompa jutaan ke dalam ekonomi Israel," kata Netanyahu, (13/9) seperti dikutip dari Times of Israel. Menurut dia itu menjadi angin segar bagi perekonomian Israel di tengah pandemi virus corona seperti saat ini.


Dalam seremoni penandatanganan kesepakatan damai di Gedung Putih, Netanyahu mengatakan perdamaian yang ditengahi AS itu bisa mengakhiri konflik Arab-Israel. Dia menyebut kesepakatan itu sebagai momen bersejarah.

"Perdamaian ini pada akhirnya akan meluas hingga mencakup negara-negara Arab lainnya. Dan pada akhirnya, dapat mengakhiri konflik Arab-Israel, untuk selamanya," kata Netanyahu, Selasa (15/9) seperti dikutip dari AFP.

Perjanjian itu ditandatangani oleh Benjamin Netanyahu dan Menteri Luar Negeri Bahrain dan UEA. Seremoni di halaman Gedung Putih dihadiri ratusan orang, namun tidak ada jabat tangan karena kekhawatiran penularan Covid-19.

Bahrain dan UEA adalah negara Arab pertama yang menjalin hubungan dengan Israel sejak Mesir pada 1979 dan Yordania pada 1994.

"Setelah beberapa dekade perpecahan dan konflik, kami menandai era baru Timur Tengah. Kami di sini, siang ini untuk mengubah arah sejarah," kata Trump.
Trump juga mengatakan perjanjian itu akan menjadi dasar perdamaian komprehensif di Timur Tengah.

Sebelumnya Perdana Menteri (PM) Palestina Mohammad Shtayyeh menyatakan normalisasi hubungan diplomatik ketiga negara tersebut bakal dianggap hari berkabung bagi negara Arab. Shtayyeh mengatakan perjanjian itu menjadi kekalahan Liga Arab yang tidak lagi bersatu melainkan terpecah.

(dea)

[Gambas:Video CNN]