Israel-UEA-Bahrain Tanda Tangan Perjanjian Abraham Accords

fea, CNN Indonesia | Rabu, 16/09/2020 03:10 WIB
Perjanjian antara Israel, Uni Emirat Arab, dan Bahrain dilakukan di hadapan Donald Trump di Gedung Putih, Amerika Serikat. (Ki-ka) Menteri Luar Negeri Bahrain Abdullatif al-Zayani, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, Presiden AS Donald Trump, dan Menteri Luar Negari Uni Emirat Arab Abdullah bin Zayed Al-Nahyan usai penandatanganan perjanjian Abraham Accords di Gedung Putih, Washington, DC, pada 15 September 2020. (AFP/SAUL LOEB)
Jakarta, CNN Indonesia --

Israel, Uni Emirat Arab (UEA), dan Bahrain resmi menormalisasi hubungan mereka dengan menandatangani perjanjian Abraham Accords di Gedung Putih, Washington D.C., Amerika Serikat (AS). Presiden AS Donald Trump menyatakan perjanjian ini bakal mengubah alur sejarah.

Perjanjian itu ditandatangani oleh Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan Menteri Luar Negeri Bahrain dan UEA. Seremoni di halaman Gedung Putih dihadiri ratusan orang, namun tidak ada jabat tangan karena kekhawatiran penularan Covid-19.

Bahran dan UEA adalah negara Arab pertama yang menjalin hubungan dengan Israel sejak Mesir pada 1979 dan Yordan pada 1994.


"Setelah beberapa dekade perpecahan dan konflik, kami menandai era baru Timur Tengah. Kami di sini, siang ini untuk mengubah arah sejarah," kata Trump.

Trump juga mengatakan perjanjian itu akan menjadi dasar perdamaian komprehensif di Timur Tengah.

Sementara Netanyahu menyebut hari itu 'poros sejarah'.

"Ini menandai era baru perdamaian. Pada akhirnya ini bisa mengakhiri konflik Arab-Israel untuk selamanya," ujar Netanyahu.

Menteri Luar Negeri UEA Abdullah bin Zayed Al-Nahyan mengatakan berterima kasih karena pada Israel karena memilih perdamaian dan menghentikan perebutan paksa wilayah Palestina.

"Saya berdiri di sini hari ini untuk mengulurkan tangan perdamaian dan menerima tangan perdamaian," katanya.

Sebelumnya Perdana Menteri (PM) Palestina Mohammad Shtayyeh menyatakan normalisasi hubungan diplomatik ketiga negara tersebut bakal dianggap hari berkabung bagi dunia arab. Shtayyeh mengatakan perjanjian itu menjadi kekalahan Liga Arab yang tidak lagi bersatu melainkan terpecah.

Ini akan menjadi tanggal lain untuk menambah kalender penderitaan Palestina," ucap Shtayyeh.

Selain UEA dan Bahrain, negara lain yang diyakini bakal berdamai dengan Israel adalah Arab Saudi. Trump dalam sesi wawancara jelang penandatanganan perjanjian menyebut setidaknya lima atau enam negara akan mengikuti UEA dan Bahrain.

Saat berbicara dengan Fox News, Trump juga menjelaskan perjanjian ini akan menekan Palestina maju ke meja negosiasi. Saat itu terjadi Trump meyakini Timur Tengah akan damai.

"Dan Anda akan mendapatkan damai di Timur Tengah tanpa berbuat bodoh menembaki semua orang, membunuh semua orang, dan menumpahkan darah di pasir," ujar Trump.

(fea)

[Gambas:Video CNN]