AS Akan Cegah Iran Dapatkan Senjata dari China dan Rusia

CNN Indonesia | Kamis, 17/09/2020 09:14 WIB
Amerika Serikat menyatakan akan mencegah Iran membeli tank dari China dan sistem pertahanan udara Rusia. Menlu AS Mike Pompeo. (AP Photo/Andrew Harnik)
Jakarta, CNN Indonesia --

Amerika Serikat menyatakan akan mencegah Iran membeli tank dari China dan sistem pertahanan udara Rusia.

Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo mengeluarkan pernyataan itu pada Selasa (15/9) bersamaan dengan habisnya masa embargo senjata dari Perserikatan Bangsa-bangsat terhadap Iran.

AS menarik diri dari kesepakatan nuklir dengan Iran pada 2018 dan memberlakukan kembali sanksi sepihak terhadap Teheran. Namun keputusan Uni Eropa dan PBB tidak setuju dengan keputusan itu.


"Kami akan dan bertindak mencegah Iran untuk dapat membeli tank China dan sistem pertahanan udara Rusia untuk dijual kembali kepada Hizbullah untuk merusak upaya Prancis yang dengan cakap berusaha untuk memimpin di Libanon," kata Pompeo dilansir dari AFP, Rabu (16/9).

Hizbullah adalah kelompok militan Syiah yang didukung Iran dan telah lama menjadi sasaran sanksi AS. Kelompok ini juga dicap sebagai teroris oleh AS.

Selain itu, Hizbullah merupakan pemain politik yang kuat dengan kursi di parlemen di Libanon, di mana presiden Prancis berupaya mendorong reformasi politik.

Pompeo menyatakan tidak masuk akal negara-negara yang mengizinkan Iran untuk memiliki lebih banyak uang, namun masih mencegah perbuatan Hizbullah di Libanon.

Upaya AS memberlakukan kembali sanksi internasional terhadap Iran mendapat pertentangan luas. AS juga ingin memperpanjang embargo senjata PBB di Libanon yang akan berakhir pada 18 Oktober 2020.

Pompeo menegaskan bahwa AS akan terus mempertahankan tatanan internasional untuk mencegah Iran kembali ke aktivitas di Lebanon, Irak dan Suriah.

Sebelumnya Iran telah memperingatkan AS agar tidak membuat kesalahan strategis. Hal itu diungkapkan Iran setelah Presiden Donald Trump mengancam Teheran atas laporan yang menyebut mereka berencana membalas kematian Jenderal Qasem Soleimani.

(ndn/dea)

[Gambas:Video CNN]