WHO Kritik Negara yang Utamakan Ekonomi saat Pandemi

Channel News Asia, CNN Indonesia | Jumat, 18/09/2020 17:00 WIB
Dirjen WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus mengkritik negara yang menhadapi dikotomi 'palsu' saat mengorbankan kesehatan warganya demi ekonomi di tengah pandemi. Dirjen WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus. (Foto: AFP/-)
Jakarta, CNN Indonesia --

Keputusan kepala negara yang menghadapi dilema antara memberlakukan penguncian wilayah (lockdown) demi menekan penularan virus corona, atau mengorbankan kesehatan masyarakat demi membuka kembali sektor perekonomian menuai kritik Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

Direktur Jenderal Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) Tedros Adhanom Ghebreyesus mengkritik pilihan tersebut sebagai sebuah dikotomi 'palsu' di tengah pandemi.

"Itu adalah pilihan yang salah. WHO mendesak negara-negara untuk fokus pada empat prioritas penting (menghadapi pandemi)," kata Tedros dalam rekaman video yang diputar pada webinar yang diselenggarakan Universitas Nasional Singapura (NUS).


Mengutip Channel News Asia, empat prioritas yang dimaksud Tedros yakni: pertama yakni melarang acara pertemuan skala besar misalnya di stadion dan kelab malam, yang di beberapa tempat menjadi klaster baru penularan corona. Kedua yakni melindungi kelompok yang rentan, menyelamatkan nyyawa, dan mengurangi beban sistem kesehatan.

Ketiga, kebutuhan untuk mendidik masyarakat untuk disiplin menjaga jarak, mencuci tangan, mengenakan masker untuk mencegah penularan. Keempat dengan melacak, mengisolasi, mengkarantina, menguji, dan merawat orang yang memiliki riwayat kontak dengan orang yang terinfeksi corona.

"Sudah ada banyak contoh negara yang secara efektif mencegah atau mengendalikan wabah dengan menerapkan empat cara ini, dan melakukannya dengan baik," ucapnya seraya mencontohkan kesuksesan Selandia Baru, Islandia, dan Singapura.

"Secara umum, butuh komitmen dari semua negara untuk menjaga persatuan nasional dan solidaritas global."

[Gambas:Video CNN]

170 negara berkomitmen mendistribusikan vaksin

Dalam kesempatan tersebut, ia juga mengungkapkan ada 170 negara yang menyatakan komitmen dalam rencana global untuk mendistribusikan vaksin corona secara adil ke seluruh dunia.

Program bertajuk COVAX menjadi prioritas utama WHO sebagai upaya mendistribusikan vaksin corona dengan cara yang aman.

"Vaksin pertama yang disetujui mungkin bukan yang terbaik. Semakin banyak opsi yang kita miliki, semakin tinggi kemungkinan mendapatkan vaksin yang sangat aman dan sangat manjur," kata Tedros.

Insert Artikel - Waspada Virus CoronaFoto: CNN Indonesia/Fajrian
Insert Artikel - Waspada Virus Corona

"Kami sudah menghadapi tantangan dengan penerimaan vaksin banyak yang sudah terbukti. Kami tidak bisa mengambil risiko mendistribusikan vaksin yang dianggap tidak aman."

Menurutnya saat ini negara-negara di seluruh dunia tengah menghadapi ujian terhadap solidaritas untuk berbagi hasil penelitian vaksin corona. Hal itu yang menjadi ujian terbesar global.

"Ujian terbesar yang sedang dihadapi saat ini bukanlah ilmiah atau teknis," imbuhnya.

Ia mengatakan pandemi telah mengubah pilihan politik dan ekonomi dunia. Hal itu terlihat dari minimnya kesiapan negara-negara global dalam menghadapi serangan virus mematikan.

"Dalam 20 tahun terakhir, negara-negara telah berinvestasi besar-besaran dalam mempersiapkan serangan terorisme. Tetapi relatif sedikit kesiapan dalam menghadapi serangan virus, seperti yang dibuktikan dengan adanya pandemi, bisa jauh lebih mematikan, mengganggu, dan merugikan," tandasnya.

Pernyataan Tedros kali ini disampaikan ketika kasus corona global mencapai 30.356.725. Angka kematian akibat Covid-19 juga nyaris mencapai 1 juta, yakni 950.628.

(evn/ayp)