Polisi Belarusia Tahan Demonstran Wanita Antipresiden

CNN Indonesia | Sabtu, 19/09/2020 22:45 WIB
Aksi unjuk rasa itu sendiri diikuti setidaknya dua ribu perempuan menuntut Presiden Alexander Lukashenko mengakhiri kekuasaannya. Para demonstran di Belarusia saat melakukan aksi unjuk rasa. (AP/Dmitri Lovetsky)
Jakarta, CNN Indonesia --

Polisi antihuruhara Belarusia menahan setidaknya ratusan demonstran perempuan yang melangsungkan aksi menuntut Presiden Alexander Lukashenko turun dari jabatannya di ibu kota negara tersebut, Minsk, Sabtu (19/9).

Seperti dilansir AFP, aksi unjuk rasa itu sendiri diikuti setidaknya dua ribu perempuan. Mereka mengenakan aneka ragam aksesori berkilau dan juga membawa bendera merah putih sebagai tanda gerakan.

Atas aksi demonstran tersebut, polisi sebelumnya hanya memblokade. Namun, beberapa saat kemudian, polisi mulai menarik sejumlah demonstran. Mengantisipasi hal tersebut, para demonstran perempuan mencoba saling mengaitkan tangan.


Salah satu di antara aktivis perempuan yang diamankan polisi itu adlaah Nina Baginskaya. Perempuan berusia 73 itu merupakan salah satu sosok menonjol di antara para demonstran.

Namun, Baginskaya tak lama ditahan, karena ia dibebaskan di depan kantor polisi beberapa saat kemudian.

Ini adalah rangkaian unjuk rasa terbaru dari demonstrasi perempuan terkait hasil pemilu yang berlangsung bulan lalu. Tokoh oposisi yang bertarung dalam pemilu Belarusia yang lalu, Svetlana Tikhanovskaya memuji aksi para demonstran.

"Mereka tetap berbaris meski terus-menerus diancam dan mendapat tekanan," katanya yang kini berada di Lithuania sejak pemilu berujung ricuh.

Lukashenko telah memerintah selama 26 tahun dan sering digambarkan sebagai diktator terakhir Eropa. Sementara itu, Tikhanovskaya melarikan diri ke Lithuania setelah pemilu berakhir ricuh pada Agustus lalu. Tikhanovskaya melarikan diri menyusul bentrokan di malam kedua dalam unjuk rasa menolak hasil pilpres pada Senin (10/8) malam.

(AFP/kid)

[Gambas:Video CNN]