Garda Revolusi Iran Hanya Balas Dendam ke Pembunuh Soleimani

CNN Indonesia | Minggu, 20/09/2020 01:50 WIB
Kepala Pasukan Pengawal Revolusi Iran membantah pihaknya akan membunuh Dubes AS untuk Afsel sebagai balas dendam atas tewasnya Jenderal Qasem Soleimani. Warga Iran yang marah atas serangan mematikan terhadap Jenderal Qasem Soleimani. (AFP/ATTA KENARE)
Jakarta, CNN Indonesia --

Kepala Pasukan Pengawal Revolusi Iran, Mayor Jenderal Hossein Salami merespons tuduhan yang menyatakan pihaknya akan membunuh Duta Besar Amerika Serikat untuk Afrika Selatan, Lana Marks. Dia mengatakan Iran pasti akan membalas dendam ke Amerika Serikat atas kematian Jenderal tertinggi militer negaranya, Qasem Soleimani.

Kendati demikian balas dendam itu, kata Hossein, hanya ditujukan kepada orang-orang yang terlibat secara langsung. Dia pun menegaskan Iran akan melakukan balas dendam dengan cara yang terhormat.

"Tuan Trump, balas dendam kami atas kemartiran komandan besar kami sudah pasti, serius dan nyata. Tapi kami membalas dengan cara terhormat," katanya dikutip situs resmi Garda, Sepahnews.


"Anda harus tahu, bahwa kami akan menargetkan siapa pun yang terlibat ... dan ini adalah pesan yang serius," lanjut Hossein

Soleimani adalah orang yang memimpin Pasukan Qods elite Pengawal Iran. Dia tewas dalam serangan udara Amerika di dekat bandara Baghdad pada Januari lalu.

Sebelumnya sebuah laporan media AS, mengutip pejabat yang tidak disebutkan namanya, mengatakan Iran berencana untuk membalas lewat pembunuhan duta besar Amerika untuk Afrika Selatan.

Hossein dalam ucapannya dia tidak membantah atau membenarkan kabar tersebut. Namun, ia menegaskan, "Anda pikir kami akan menyerang seorang duta besar wanita untuk Afrika Selatan karena darah saudara laki-laki kami yang mati syahid? Kami akan menargetkan mereka yang secara langsung atau tidak langsung terlibat dalam kesyahidan pria hebat ini."

Terkait kabar balas dendam Iran, Pejabat AS disebut telah mengetahui ancaman terhadap Lana Marks pada musim semi tahun ini. Tetapi intelijen menunjukkan ancaman tersebut menjadi lebih spesifik dalam beberapa pekan terakhir.

Marks disebutkan hanya salah satu dari beberapa pejabat AS yang menurut badan intelijen Amerika sedang dipertimbangkan Teheran untuk menjadi target pembalasan atas kematian Soleimani.

Sumber intelijen mengatakan kepada Fox News bahwa komunitas intel menanggapi ancaman terhadap duta besar dengan serius dan percaya bahwa rezim Iran memiliki kemampuan untuk bertindak atas rencana pembunuhan.

Hubungan antara Washington dan Teheran tegang sejak revolusi Islam 1979. Teranyar, Presiden AS, Donald Trump secara sepihak menarik diri dari kesepakatan nuklir internasional yang penting dengan Iran pada Mei 2018.

(ndn/kid)

[Gambas:Video CNN]