Kasus Corona Naik, Pemerintah Myanmar Didesak Tunda Pemilu

AFP, CNN Indonesia | Senin, 21/09/2020 22:34 WIB
Lonjakan tajam kasus infeksi virus corona (Covid-19) di Myanmar membuat sejumlah kalangan mendesak penundaan pemilihan umum. Ilustrasi pendukung Penasihat Negara Myanmar, Aung San Suu Kyi. Lonjakan tajam kasus infeksi virus corona (Covid-19) di Myanmar membuat sejumlah kalangan mendesak penundaan pemilihan umum. (Ye Aung Thu / AFP)
Jakarta, CNN Indonesia --

Lonjakan tajam kasus infeksi virus corona (Covid-19) di Myanmar membuat sejumlah kalangan mendesak penundaan pemilihan umum.

Desakan itu disampaikan oleh Ketua Partai Persatuan Solidaritas dan Pembangunan (USDP), Than Htay.

Htay yang berpihak pada militer mengatakan kepada AFP bahwa dia "sangat prihatin" mengenai ide untuk tetap menggelar pemungutan suara selama pandemi.


"Pemerintah seharusnya tidak mengorbankan rakyat... Jika tidak cocok untuk menyelenggarakan pemilu, (maka) tunda saja!," katanya seperti dikutip AFP, Senin (21/9).

Dalam sebuah unggahan di media sosial Facebook, Partai Perintis Rakyat Myanmar juga mendesak pemerintah untuk menunda pemungutan suara.

Infeksi baru Covid-19 di Myanmar dilaporkan berlipat ganda setiap pekannya dan rumah sakit di kota Yangon kewalahan menangani pasien.

Lonjakan tajam terjadi ketika Myanmar bersiap mengadakan pemilihan nasional pada 8 November mendatang. Partai Liga Nasional untuk Demokrasi (NLD) pimpinan Aung San Suu Kyi diperkirakan kembali berkuasa.

Masa kampanye 60 hari pemilu di Myanmar baru dimulai pada pekan lalu.

NLD tidak dapat dihubungi untuk dimintai komentar. Padahal, desakan untuk penundaan pemilu semakin santer terdengar.

Media lokal melaporkan setidaknya tiga pihak lain turut mendukung desakan tersebut.

Sejauh ini, pusat komersial di Yangon, ibu kota Naypyidaw, dan negara bagian Rakhine yang dilanda konflik telah ditutup. Sementara penerbangan domestik dan rute bus jarak jauh telah dihentikan.

Di perbatasan, China dan Thailand telah meningkatkan keamanan untuk menghalangi penyebaran wabah.

Negara berpenduduk sekitar 55 juta itu berhasil mengatasi epidemi dengan relatif baik hingga akhir Agustus, dengan jumlah kasus di bawah 400 dan hanya enam kematian.

Meski demikian, dalam waktu kurang dari empat pekan, infeksi terus menyebar. Kasus melonjak menjadi 3.299 kasus dan 32 kematian.

Pusat kasus infeksi Covid-19 di Myanmar terletak di Yangon dan negara bagian Rakhine.

Para pejabat setempat berebut untuk menyediakan fasilitas kesehatan tambahan di Yangon, mereka mendirikan dua rumah sakit tenda dengan ratusan tempat tidur tambahan.

Sementara itu, beberapa staf di kantor Aung San Suu Kyi dinyatakan positif Covid-19, tapi pada Selasa pemerintah mengonfirmasi Suu Kyi sehat.

Hingga Minggu pekan lalu, Myanmar mencatat 5.541 kasus positif Covid-19 termasuk 92 kematian. Sedangkan 1.260 orang dinyatakan sembuh.

(ans/ayp)

[Gambas:Video CNN]