Trudeau: Kanada Masuki Gelombang Dua Pandemi

Associated Press, CNN Indonesia | Kamis, 24/09/2020 07:05 WIB
PM Justin Trudeau mengatakan saat ini Kanada tengah memasuki gelombang kedua pandemi Covid-19. PM Kanada Justin Trudeau. (Foto: Dave Chan / AFP)
Jakarta, CNN Indonesia --

Perdana Menteri Justin Trudeau mengatakan saat ini Kanada memasuki gelombang kedua pandemi Covid-19. Trudeau juga memperingatkan potensi penyebaran virus corona menjadi lebih buruk jelang musim gugur.

Trudeau mengatakan saat memberlakukan penguncian (lockdown) pada 13 Maret hanya ada 47 kasus baru yang dikonfirmasi. Namun sejak melonggarkan aturan secara perlahan, pada Selasa (22/9) ia melaporkan ada lebih dari 1.000 kasus baru.

"Kami tidak dapat mengubah angka hari ini atau bahkan besok - itu sudah ditentukan oleh apa yang kami lakukan, atau tidak lakukan, dua pekan lalu," kata Trudeau dalam pidatonya.


"Tapi yang bisa kita ubah adalah posisi kita di bulan Oktober, dan memasuki musim dingin. Kemungkinan besar kita tidak akan berkumpul untuk merayakan Thanksgiving, tapi masih punya kesempatan untuk Natal."

Mengutip Associated Press, Trudeau tetap meminta warga Kanada untuk tetap mengenakan masker dan mengunduh aplikasi pelacakan Covid yang memberi tahu jika mereka melakukan kontak dekat dengan seseorang yang dinyatakan positif terinfeksi corona.

Ia juga mengatakan pemerintah akan melakukan 'apapun yang diperlukan' untuk mendukung Kanada dan perekonomian selama pandemi.

Berdasarkan data statistik Worldometers, saat ini Kanada memiliki 147.756 kasus dan 9.243 kematian. Sekitar 127.788 kasus dinyatakan sembuh dan 10.725 diantaranya merupakan kasus aktif.

Gubernur Jenderal Juli Payette menyatakan tiga partai oposisi penentang pidato Trudeau. Ia mengatakan pandemi sebagai krisis kesehatan paling serius yang pernah dihadapi Kanada, bahkan lebih buruk dari krisis keuangan 2008.

Pemerintah sebelumnya memperpanjang Subsidi Upah Darurat hingga musim panas mendatang. Di awal pandemi, Trudeau mengumumkan bisnis akan memenuhi syarat untuk mensubsidi upah 75 persen bagi karyawan, sementara bisnis yang telah mengalami penurunan pendapatan hanya 30 persen.

Tak hanya itu, Trudeau juga berencana mengenakan pajak kepada perusahaan raksasa internet yang beroperasi di Kanada.

Namun hal itu mendapat penolakan dari oposisi. Erin O'Toole, pemimpin partai Konservatif mengatakan jika kini bukan saat yang tepat bagi pemerintah untuk berhemat. Ia mengatakan jika warga saat ini butuh pekerjaan, bukan kata-kata manis Trudeau.

(evn/evn)

[Gambas:Video CNN]