Lukashenko Kembali Dilantik Jadi Presiden Belarus

CNN Indonesia | Jumat, 25/09/2020 03:24 WIB
Alexander Lukashenko kembali dilantik menjadi presiden Belarus, meski hasil pemilihan presiden itu digugat oleh kelompok oposisi. Presiden Belarus, Alexander Lukashenko. Dia kembali dilantik menjadi presiden Belarus, meski hasil pemilihan presiden itu digugat oleh kelompok oposisi. (AFP/SERGEI GAPON)
Jakarta, CNN Indonesia --

Alexander Lukashenko kembali dilantik menjadi Presiden Belarus, meski hasil pemilihan presiden itu digugat oleh kelompok oposisi.

Lukashenko yang sudah berkuasa di Belarusia sejak 1994 kembali dilantik pada Rabu (23/9) tanpa pemberitahuan kepada publik. Upacara pelantikan tersebut berlangsung di tengah protes besar terhadapnya dari kelompok oposisi.

Melansir Associated Press yang mengutip laporan kantor berita Belarus, Belta, Kamis (24/9), upacara pelantikan itu diadakan di depan beberapa ratus pejabat di Istana Kemerdekaan di Minsk.


Polisi dan pasukan keamanan lainnya memblokir beberapa bagian kota dan aktivitas transportasi umum dihentikan selama upacara.

Lukhasenko mengucapkan sumpah jabatan dengan tangan kanan memegang kitab konstitusi. Kepala Komisi Pemilihan Umum Pusat menyerahkan kartu identitas resmi presiden Belarus kepadanya.

"Hari pelantikan presiden adalah hari kemenangan kami, meyakinkan dan ditakdirkan," kata sang Kepala Komisi Pemilihan Umum Belarus.

"Kami tidak hanya memilih presiden negara - kami membela nilai-nilai kami, kehidupan damai, kedaulatan, dan kemerdekaan kami," lanjutnya.

Seorang pemimpin oposisi menyebut upacara pelantikan diam-diam itu sebagai lelucon. Beberapa negara Eropa bahkan menyatakan mereka tidak mengakui hasil pemilihan, dan menolak untuk menganggap Lukashenko sebagai presiden Belarus yang sah.

Pada malam hari, ribuan orang turun ke jalan di ibu kota Belarusia, Minsk untuk memprotes upacara pelantikan. Namun, aksi itu ditanggapi dengan cara represif oleh aparat keamanan.

Dilaporkan ada lebih dari 360 orang yang ditangkap dalam unjuk rasa tersebut.

Menurut lawan politik Lukhasenko dan pejabat Eropa, nihilnya keterlibatan masyarakat adalah bentuk bahwa dia tidak memiliki mandat yang sah untuk memimpin negara.

"Bahkan setelah upacara hari ini, Lukashenko tidak dapat mengklaim legitimasi demokratis, yang akan menjadi syarat untuk mengakui dia sebagai presiden sah Belarus," kata, juru bicara Kanselir Jerman Angela Merkel, Steffen Seibert.

Belarus adalah negara pecahan Uni Soviet yang berpenduduk sekitar 9,5 juta orang. Lukashenko yang kini berusia 66 tahun memerintah negara itu dengan tangan besi selama 26 tahun.

Pada pemilihan umum presiden yang dihelat 9 Agustus lalu, Lukashenko disebut meraup 80 persen suara.

Lawan terkuatnya adalah Sviatlana Tsikhanouskaya, yang berdasarkan penghitungan dari Komisi Pemilihan Umum hanya mendapat 10 persen suara.

Tsikhanouskaya, yang kini berada di pengasingan di negara tetangga, Lithuania, setelah dipaksa meninggalkan Belarus, mengatakan bahwa hasil perhitungan suara tersebut tidak sah. Dia pun turut mengomentari pelantikan Lukhasenko.

"Orang-orang belum memberinya mandat baru," katanya.

"Saya, Sviatlana Tsikhanouskaya, adalah satu-satunya pemimpin yang dipilih oleh rakyat Belarus. Dan tujuan kami saat ini adalah membangun Belarus baru bersama-sama, " katanya dalam video dari ibu kota Lituania, Vilnius.

Amerika Serikat dan Uni Eropa juga mempertanyakan hasil pemilihan tersebut dan mengkritik tindakan represif polisi terhadap pengunjuk rasa.

Uni Eropa (UE) sedang mempertimbangkan sanksi terhadap pejabat Belarus, tetapi gagal menyepakati apakah akan memberikan sanksi itu pekan ini.

Lukashenko dikenal sangat dekat dengan Presiden Rusia, Vladimir Putin. Dia juga sempat dilaporkan terinfeksi virus corona (Covid-19), tetapi kini dinyatakan sembuh.

(ndn/ayp)

[Gambas:Video CNN]