Veteran Militer AS Kecewa Trump Tuding Pilpres AS Dicurangi

CNN Indonesia | Sabtu, 07/11/2020 20:40 WIB
Kalangan militer mengkritik capres petahana AS, Donald Trump, soal dugaan kecurangan pilpres. Namun, kelompok Kristen konservatif masih mendukung. Calon presiden petahana Amerika Serikat, Donald Trump. (AFP PHOTO / MANDEL NGAN)
Jakarta, CNN Indonesia --

Sikap calon presiden petahana Amerika Serikat, Donald Trump, yang menuduh ada potensi kecurangan dan pencurian suara dalam pemilihan presiden menuai kritik dari kalangan veteran militer. Namun, kelompok Kristen yang konservatif masih tetap mendukung sang petahana.

Seperti dilansir Associated Press, Sabtu (7/11), Trump mendesak seluruh surat suara dari para tentara yang berdinas di luar negeri dan dikirim via pos tetap dihitung. Namun, dia menuduh ada surat suara dari para prajurit yang hilang.

Sejumlah petinggi militer AS yang berdinas di luar negeri merasa kecewa dengan tuduhan Trump soal surat suara prajurit yang hilang. Sebab Trump tidak memberikan bukti-bukti untuk memperkuat tudingannya.


"Para perwira di berbagai tingkat termasuk mereka yang berada di Kongres harus mengatakan kepada presiden, 'Pak, Anda harus sabar sama seperti yang dilakukan seluruh masyarakat'," kata mantan perwira Angkatan Laut AS, Laksamana (purnawirawan) Steve Abbot.

Abbot pernah menjabat sebagai Wakil Penasihat Keamanan Dalam Negeri di masa pemerintahan Presiden George W. Bush. Dia juga anggota perkumpulan Count Every Hero yang beranggotakan para mantan perwira tinggi militer AS, yang bertugas melakukan advokasi supaya suara para tentara yang berdinas dilindungi dan dihitung secara jujur dan adil.

Sampai saat ini belum diketahui secara pasti berapa jumlah surat suara prajurit AS yang berdinas di luar negeri yang akan dikirim.

Tori Simenec (28) yang merupakan mantan anggota Korps Marinir Angkatan Laut AS yang berpangkat letnan satu ikut mengomentari pernyataan Trump.

"Setiap orang punya hak untuk terlibat dalam demokrasi. Itu mengapa orang-orang memilih masuk ketentaraan. Hal ini yang membuat kami sangat yakin," kata Simenec.

Mantan perwira menengah Angkatan Darat AS, Mike Jason (47), yang terakhir berpangkat kolonel merasa kesal dengan pernyataan Trump. Sebab, selama hampir tiga dasawarsa bertugas, dia memberikan suara melalui pos dari lokasi penugasannya di Afghanistan, Irak, dan Jerman.

Sementara itu, kelompok Kristen konservatif menyatakan masih meyakini Trump akan memenangkan pilpres tahun ini.

"Tidak ada yang perlu dipertanyakan bahwa kami melakukan pekerjaan kami," kata aktivis senior Partai Republik yang mendirikan Koalisi Keyakinan dan Kebebasan, Ralph Reed.

Pemilih dari kelompok Kristen konservatif kulit putih mencapai 23 persen dari keseluruhan peserta pemilihan presiden.

Meski kesempatan Trump untuk menyaingi rivalnya dari Partai Demokrat, Joe Biden, semakin tipis, Reed mengatakan masih ada peluang bagi kelompok mereka untuk bekerja sama dengan Biden untuk melawan kelompok sayap kiri di AS.

Pendeta Samuel Rodriguez yang berasal dari kalangan keturunan Latin menyatakan mereka melihat pemilihan kali ini sebagai bentuk kemenangan bagi kelompok konservatif.

Dalam hasil penghitungan sementara yang dilakukan CNN dan dikutip pukul 19.22 WIB, Biden masih unggul dengan 253 suara elektoral. Sementara Trump mendapatkan 213 suara elektoral.

Penghitungan versi Associated Press memperlihatkan Biden mendapatkan 264 suara elektoral. Sementara Trump meraih 214 suara elektoral.

Infografis Partisipasi Pemilih dalam Pemilu AS dalam 5 Dekade(CNNIndonesia/Basith Subastian)

Kedua kandidat masing-masing harus mendapatkan 270 dari 538 suara elektoral untuk bisa memenangkan pilpres.

Proses penghitungan sampai saat ini tinggal menunggu lima negara bagian, yaitu Arizona, Georgia, Nevada, North Carolina dan Pennsylvania.

(ayp/ayp)

[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK