PM Palestina Respons Pertemuan Rahasia Arab Saudi-AS-Israel

Associated Press, CNN Indonesia | Selasa, 24/11/2020 07:26 WIB
PM Palestina, Mohammad Shtayyeh mengaku sedih mendengar ada pertemuan rahasia antara Pangeran Saudi dengan PM Israel dan Menlu AS. Putra Mahkota Arab Saudi, Pangeran Mohammed bin Salman Al Saud. (YOAN VALAT / POOL / AFP)
Jakarta, CNN Indonesia --

Perdana Menteri Palestina, Mohammad Shtayyeh buka suara atas pertemuan rahasia antara Israel, dan Amerika Serikat dengan putra makhota Arab Saudi.

Shtayyeh menyatakan pihaknya sedih dengan kabar bahwa negara-negara Arab sedang dalam pembicaraan untuk membuka kembali kedutaan besar di Israel.

"Kami sedih dengan berita bahwa negara-negara Arab sedang dalam pembicaraan untuk membuka kembali kedutaan besar di Israel, terutama bahwa negara-negara ini tidak memiliki kedutaan atau misi diplomatik di tanah negara Palestina yang mereka akui," kata Shtayyeh.


"Saya mengonfirmasi panggilan Yang Mulia Presiden Abu Mazen (Mahmoud Abbas) atas dialog Arab-Arab tentang apa yang terjadi dan perlunya mengoordinasikan posisi dengan kepemimpinan Palestina mengenai apa pun yang merugikan kami," lanjutnya seperti dilansir dari Associated Press.

Shtayyeh pada Senin (23/11), mengecam kunjungan Pompeo pada Kamis lalu ke pemukiman Israel di Tepi Barat yang diduduki.

Pompeo menjadi diplomat AS pertama yang mengunjungi pemukiman Psagot di Tepi Barat yang dibangun di atas tanah Al-Bireh (Palestina).

Kunjungan itu terjadi ketika Departemen Luar Negeri AS menjajaki perubahan kebijakan besar dengan mengumumkan bahwa produk yang berasal dari pemukiman tersebut dapat diberi label "Buatan Israel".

Dua langkah tersebut mencerminkan penerimaan pemerintahan Trump atas pemukiman Israel, di mana Palestina dan sebagian besar komunitas internasional memandangnya sebagai pelanggaran hukum internasional dan hambatan utama bagi perdamaian.

"Kunjungan Pompeo dan pengumuman tentang produk itu datang dalam konteks serangan terhadap hak-hak rakyat kami dan pelanggaran hukum internasional, yang bertujuan untuk menghancurkan geografi Palestina, melegitimasi aktivitas pemukiman," tutur Shtayyeh.

Meski demikian, pengumuman Pompeo yang sebagian besar bersifat simbolis, dapat dibatalkan oleh pemerintahan Presiden terpilih, Joe Biden. Biden diketahui menjanjikan pendekatan yang lebih adil bagi Israel dan Palestina.'

Seorang koresponden diplomatik di lembaga penyiaran publik Israel yang tidak disebutkan namanya mengatakan bahwa Netanyahu dan kepala badan mata-mata Mossad, Yossi Cohen "kemarin terbang ke Arab Saudi dan bertemu Pompeo dan MBS di kota Neom".

Beberapa outlet media Israel lainnya juga melaporkan informasi serupa pada Senin pagi.

Tapi kantor Netanyahu tidak bersedia mengomentari laporan tersebut.

Pertemuan itu terjadi setelah Israel menyetujui kesepakatan untuk menormalisasi hubungan dengan dua sekutu Saudi di Teluk, Uni Emirat Arab (UEA) dan Bahrain.

(ans/evn)

[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK