PM Selandia Baru Minta Maaf atas Penembakan Dua Masjid

CNN Indonesia | Rabu, 09/12/2020 09:47 WIB
PM Selandia Baru Jacinda Ardern minta maaf kepada rakyat atas kegagalan negara mencegah penembakan dua masjid di Christchurch 2019 lalu. Perdana Menteri Selandia Baru Jacinda Ardern. (AFP/SANKA VIDANAGAMA)
Jakarta, CNN Indonesia --

Perdana Menteri Selandia Baru Jacinda Ardern meminta maaf kepada rakyat atas kegagalan negara mencegah penembakan dua masjid di Christchurch pada 2019 lalu.

Permintaan maaf itu disampaikan Ardern setelah laporan investigasi soal penyerangan Christchurch dipresentasikan di depan parlemen, Rabu (9/12).

Dalam laporan setebal 792 halaman itu, tim penyelidik komisi kerajaan mengidentifikasi minimnya sistem kepemilikan senjata api dan "konsentrasi sumber daya yang tidak tepat" di badan keamanan negara.

Meski begitu, tim penyidik tidak menyimpulkan bahwa ada keterkaitan antara kekurangan-kekurangan tersebut dengan kegagalan pemerintah mencegah penembakan di dua masjid di Christchurch.



Namun, dalam laporan itu penyelidik memberi sejumlah rekomendasi termasuk manajemen kepemilikan senjata api, pembentukan badan intelijen dan keamanan baru, serta dorongan agar kepolisian bisa lebih baik dalam mengidentifikasi dan merespons kejahatan yang didasari ujaran kebencian.

"Komisi penyelidikan memang tidak menemukan bahwa masalah-masalah itu bisa menghentikan serangan teror. Tapi, itu semua adalah bentuk kegagalan dan saya meminta maaf karenanya," kata Ardern seperti dikutip kantor berita Anadolu.

Ardern menuturkan pemerintah sepakat mengikuti seluruh 44 rekomendasi yang tertuang dalam laporan tersebut demi memastikan keamanan warga Kiwi, sebutan warga Selandia Baru, termasuk kelompok minoritas dan pendatang.

Ia mengatakan pemerintah telah membentuk kelompok pengarah antar-lembaga untuk melaksanakan rekomendasi yang diajukan.


"Kaun Muslim di Selandia Baru harus aman. Semua orang yang menganggap Selandia Baru adalah rumah mereka harus dalam keadaan selalu aman terlepas dari ras, agama, gender, dan orientsi seksual mereka," ujar Ardern.

Ardern lebih lanjut mengatakan pemerintahannya akan memperkuat kapasitas Komisi Hak Asasi Manusia dengan meningkatkan anggaran lembaga tersebut.

Ia juga mengatakan pemerintah terus bekerja menggodok undang-undang terkait ujaran kebencian dan Terrorism Suppression Act.

Insiden berdarah Christchurch terjadi pada 15 Maret 2019. Saat itu pria penganut supremasi kulit putih asal Australia, Brenton Tarrant, menembak jemaah Masjid Linwood dan Masjid Al Noor di Christchurch, ketika umat Muslim tengah menunaikan salat Jumat.

Sebanyak 51 orang meninggal dalam kejadian tersebut, termasuk seorang warga Indonesia, Lilik Abdul Hamid. Mendiang adalah teknisi pesawat terbang yang bermukim di negara tersebut bersama keluarganya. Jenazahnya dimakamkan di Selandia Baru.

Selain itu, 40 orang terluka akibat perbuatan Tarrant. Di antara korban luka yang saat ini masih hidup adalah seorang warga Indonesia, Zulfirmansyah, dan anak laki-lakinya yang ketika itu tengah Salat Jumat di Masjid Linwood.


Tarrant merekam aksi tersebut dan menayangkan secara langsung melalui media sosial Facebook. Dia juga mengunggah manifesto beberapa saat sebelum kejadian yang memperlihatkan dia adalah penganut ideologi ekstrem kanan.

Serangan Christchurch adalah penembakan massal pertama di negara itu sejak pembantaian Raurimu pada tahun 1997.

Sebelum itu, penembakan massal publik paling mematikan adalah pembantaian Aramoana 1990, di mana 13 orang tewas.

(rds/dea)

[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK