Dokter Kulit Hitam di AS Wafat Covid Usai Keluhkan Rasialisme

CNN Indonesia | Minggu, 27/12/2020 05:25 WIB
Seorang dokter kulit hitam yang didiagnosa Covid-19 di AS meninggal beberapa hari setelah mengeluhkan dugaan rasialisme dalam penangan medis dirinya. Ilustrasi kematian. (iStockphoto/BrankoPhoto)
Jakarta, CNN Indonesia --

Seorang dokter kulit hitam di Amerika Serikat yang berjuang melawan Covid-19, Susan Moore (52), meninggal dunia beberapa hari setelah dia mengunggah keluhan dugaan rasialisme dalam pelayanan medis lewat akun media sosialnya.

Lewat akun Facebook, Moore mengeluhkan pelayanan medis di Negara Bagian Indiana. Dia dinyatakan positif Covid-19 akhir November lalu, dan dirawat di sebuah rumah sakit yakni Indiana University Health North Hospital (IU North).

Dia memerhatikan bahwa dokter kulit putih yang menanganinya terlihat mengabaikan rasa sakitnya, dan mengatakan bahwa Moore tak mempercayai rumah sakit.


"Saya mengemukakan dan mempertahankan, jika saya berkulit putih, saya tidak akan harus melalui itu," katanya lewat video yang diunggah pada 4 Desember lalu dengan suara yang terdengar parau seperti dikutip dari The Associated Press, Sabtu (26/12).

"Beginilah cara orang kulit hitam terbunuh, saat Anda mengirim mereka pulang, dan mereka tidak tahu cara berjuang untuk diri mereka sendiri," imbuhnya.

Dalam video tersebut, Moore yang terlihat menggunakan alat bantu pernapasan merekam dirinya sendiri yang terbaring di ranjang rumah sakit. Moore mengatakan dokter yang merawat menyebut gejala dirinya tak menunjukkan sesak napas.

"Tapi saya betul-betul [sesak napas]," ujar Moore di video itu mencoba menjelaskan apa yang dirasakannya ke dokter.

Seperti dikutip dari CNN.com, dia lalu memohon agar mendapatkan obat remdesivir. Tapi, alih-alih memberi obat yang bisa meringankan gejalanya tersebut, dokter malah menyatakan Moore boleh pulang.

"Dia membuat saya merasa seperti seorang pecandu obat-obatan," ujar Moore di video tersebut. "Dan, saya tahu [apa yang dilakukan dokter yang merawatnya] karena saya juga seorang dokter."

Moore diketahui merupakan dokter spesialis penyakit dalam. Dan, dia menegaskan gejala yang yang dideritanya baru dirawat secara memadai hanya setelah dia mengemukakan kekhawatiran tentang perawatannya.

Dia akhirnya kemudian pulang dari rumah sakit pada 7 Desember 2020, tetapi kembali lagi kurang dari 12 jam kemudian. saat itu, tekanan darahnya menurun dan suhu tubuhnya meningkat.

Tetapi, Moore tidak kembali ke rumah sakit yang lama. Dia dibawa ke Rumah sakit Ascencion St VIncent di Carmel Indiana, dan di sana diakui Moore dirinya mendapatkan pelayanan yang lebih baik.

"Saya mengajukan dan saya mempertahankan jika saya berkulit putih, saya tidak harus melalui itu," kata Moore

Meski mendapat pelayanan medis yang lebih baik, kondisi Moore terus menurun drastis sehingga harus dipasangi ventilator.

Moore kemudian wafat pada 20 Desember 2020.

Juru Bicara IU North mengonfirmasi kepada CNN bahwa Moore memang salah seorang pasien di rumah sakit tersebut. Moore disebutkannya dipulangkan, namun juru bicara RS itu menolak mengatakan lebih banyak dengan dalih privasi pasien.

"Sebagai sebuah organisasi yang berkomitmen untuk kesetaraan dalam mengurangi disparitas ras dalam perawatan kesehatan, kami menangani tuduhan diskriminasi dengan sangat serius dan menyelidiki setiap tuduhan," kata juru bicara itu.

Sementara itu, Presiden dan CEO Indiana University Health, Dennis M Murphy dalam keterangan resminya membela aspek teknis dari perawatan yang diterima Moore. Meskipun demikian, dia mengakui, "bahwa kami mungkin tidak menunjukkan tingkat kasih sayang dan rasa hormat yang kami perjuangkan dalam pemahaman. apa yang paling penting bagi pasien. "

Dia juga meminta peninjauan eksternal atas kasus tersebut.

(AP/kid)


[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK