Demo Anti Polisi dan Rezim, Situasi Tunisia Memanas

CNN Indonesia | Rabu, 27/01/2021 00:06 WIB
Situasi di Tunis, ibu kota Tunisia memanas setelah demo anti kekerasan polisi dan kondisi pemerintahan yang kacau terus berlangsung berhari-hari. Ilustrasi penembakan water cannon dalam demonstrasi. (AP Photo/Hussein Malla)
Jakarta, CNN Indonesia --

Polisi anti huru-hara Tunisia menembakkan water cannon kepada para pengunjuk rasa di luar gedung parlemen, Selasa (26/1), untuk meredam demonstrasi terbesar terkait ketimpangan dan kekerasan oleh kepolisian.

Ratusan demonstran telah berunjuk rasa dari kawasan Ettadhamen dari ibu kota Tunis, ketika anak-anak muda bentrok tiap malam dengan pihak kepolisian selama lebih dari sepekan.

Mereka juga bergabung dengan ratusan pengunjuk rasa lainnya dekat parlemen negara tersebut.


Pihak kepolisian memblokir aksi dengan barikade untuk mencegah demonstran mendekati kawasan parlemen ketika para anggota dewan berdebat tegang terkait perombakan pemerintahan yang memicu kontroversi.

"Pemerintah hanya menggunakan polisi untuk melindungi mereka dari rakyat, tidak ada lagi legitimasi," kata seorang pengunjuk rasa yang merupakan pengangguran, Salem Ben Saleh.

Protes pecah pada bulan ini, bertepatan dengan ulang tahun ke-10 revolusi Tunisia 2011 lalu yang menginspirasi Arab Spring dan mengenalkan sistem demokrasi ke negara tersebut.

Kelumpuhan politik dan kemerosotan ekonomi telah membebani masyarakat Tunisia sebagai akibat dari pemberontakan itu.

Di parlemen, Perdana Menteri Hichem Mechichi mengusulkan kabinet baru. Langkah itu ditolak oleh Presiden Kais Saied pada Senin (25/1) karena dianggap inkonstitusional.

Kebuntuan politik di Tunisia sejak Pemilu 2019 telah melumpuhkan upaya negara tersebut untuk mengatasi berbagai masalah ekonomi, pinjaman asing, dan tuntutan reformasi ketenagakerjaan.

Tahun lalu kala pandemi melanda, ekonomi Tunisia merosot lebih dari delapan persen, dengan defisit fiskal meningkat di atas 12 persen dari produk domestik bruto yang mendorong utang publik lebih dari 90 persen dari GDP.

Bentrokan malam antara generasi muda dengan kepolisian juga diimbangi dengan protes pada siang hari yang semakin meningkat. Dalam protes, para demonstran meneriakkan berbagai slogan termasuk "rakyat ingin rezim jatuh".

Pada Senin (25/1), seorang remaja tewas dan disebut oleh keluarganya meninggal setelah dipukul dengan tabung gas air mata oleh pihak kepolisian.

Insiden itu menimbulkan kemurkaan yang masih membara dalam aksi pada Selasa (26/1), ketika para demonstran meneriaki pasukan polisi juga keamanan.

Beberapa anggota parlemen oposisi juga terlihat meninggalkan parlemen dan bergabung dengan para demonstran.

"Mechichi telah mengubah ini menjadi negara polisi. Tak ada pekerjaan, tak ada pembangunan, tak ada investasi, hanya polisi melawan rakyat," kata Imed, demonstran lainnya yang tak ingin menyebutkan nama belakangnya.

(REUTERS/end)

[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK